Matahari terbit di Teluk Bone

Tanjung Bira (bagian 3): Perjalanan Pulang

Saya bangun jam 5 pagi dan menikmati pemandangan matahari terbit di Woywoy Sunrise Bira. Di area resort, ada bale-bale di atas panggung di bibir tebing, yang memang pas banget untuk leyeh-leyeh sambil melihat matahari.

Matahari terbit di Teluk Bone

Matahari terbit di Teluk Bone

Resort ini emang unik banget dan insta-genic. Selain bentuk bangunan cottage yang lucu dan bale-balenya di atas panggung, ada juga kolam renang kecil yang klo difoto pada sudut tertentu, bentuknya jadi kayak infinity pool. Klo weekend, tempat ini katanya rame banget sama pengunjung yang pengen numpang foto (jadi mungkin agak mengganggu privasi tamu yang menginap ya). Untung saya nginepnya minggu malam, cuma sempat lihat orang luar pas minggu sore aja.

Dengan rate yang murah, kami dapat sarapan standar: nasi/mie goreng/roti + spreads.

Sarapan di Woywoy Sunrise Bira

Sarapan di Woywoy Sunrise Bira

Sekitar jam 10 pagi, kami cekout dan bergerak ke Pantai Panrang Luhu, yang cuma berjarak 10 menit dari resort. Di sini juga ada beberapa penginapan di pinggir pantai, dengan pemandangan ke arah timur (matahari terbit).

Penginapan di Pantai Panrang Luhu

Penginapan di Pantai Panrang Luhu

Sayang waktu itu pantainya kotor akibat sampah yang terbawa arus. Tapi kami cukup puas karena bisa melihat-lihat kapal pinisi yang sedang dibangun di industri kapal dekat situ.

Industri Kapal Pinisi di Panrang Luhu

Industri Kapal Pinisi di Panrang Luhu

Wisatawan yang pergi ke Tanjung Bira, biasanya mampir juga ke Pantai dan Tebing Appalarang, sekitar 12km dari Pantai Bira. Saya kebetulan ngga ke sana (m.a.l.a.s), maybe next time.

Tebing Appalarang (foto dari ig @inibudi_ind)

Tebing Appalarang
(foto dari ig @inibudi_ind)

Sekitar 15km menyusuri Jl. Poros Bira – Bulukumba, kami bertemu perempatan dengan tugu kecil di tengah. Di sisi kiri perempatan itu ada Masjid Raya Tanahberu, dan di sampingnya ada jalan menuju Kampung Pengrajin Pinisi Tanah Lemo, Bonto Bahari. Selain dari perempatan itu, bisa juga masuk dari jalan di dekat Indomaret Tanah Beru. Kalau yang ini jalannya agak besar dan ada plangnya.

Jalan masuk ke Kampung Pengrajin Pinisi

Jalan masuk ke Kampung Pengrajin Pinisi
(foto dari Google Street View)

Sepanjang jalan, kanan-kiri isinya pengrajin kapal kayu, mulai dari kapal nelayan yang kecil, sampai kapal pinisi raksasa. Kami mampir ke salah satu workshop yang paling besar yaitu milik Haji Ully.

Puas melihat-lihat dan berfoto, kami melanjutkan perjalanan. Sejam kemudian, sampailah kami di Pantai Marina, Bantaeng. Pantainya bersih dengan pasir putih, dan ada lapangan luas yang di pinggirnya berjejer warung makan dengan rapi. Di sisi lainnya ada penginapan, taman bermain, dan gedung pertemuan . Saya kebayang sih gimana ramenya klo weekend di sini.

Pantai Marina, Bantaeng

Pantai Marina, Bantaeng

Saya mampir di salah satu warung makan, dan memesan kelapa muda. Kelapa muda disajikan dengan pendamping es batu, kinca gula merah, dan sirup DHT khas Makassar. Pembeli bisa DIY meracik sendiri komposisi es kelapa muda yang diinginkan, hahaha.

DIY Es Kelapa Muda

DIY Es Kelapa Muda

Perhentian berikutnya adalah Jeneponto, 1 jam dari Bantaeng. Seperti yang telah saya tulis sebelumnya, Jeneponto terkenal akan 3 hal: Garam, Jagung, dan Kuda. Di perjalanan pulang, kami merasakan yang ketiga, yaitu kuda. Warga Jeneponto terkenal akan konsumsi olahan daging kuda, jadi warung coto dan konro kuda cukup banyak bertebaran di sana. Secara umum, menurut saya sih tekstur dagingnya ngga alot (tergantung pinter masaknya), tapi memang aromanya lebih menyengat daripada daging sapi. Bolehlah untuk dicoba klo pas ke sana, toh ngga setiap hari ketemu daging kuda.

Coto Kuda Jeneponto

Coto Kuda Jeneponto

Jika saat berangkat kami memilih rute Tanjung Bunga – Jl. Poros Galesong menuju Jeneponto, maka untuk rute pulangnya kami melewati Jl. Poros Takalar menuju Gowa. Bontonowa (Gowa), kami mampir di warung bakso langganan suami kalau pas dinas dekat sini, yaitu Bakso Raksasa Bontonowa. Rasanya lumayan enak, karena baksonya disiram bubum kacang, jadi mirip somay, hehehe.

Bakso Raksasa Saos Kacang Bontonowa

Bakso Raksasa Saos Kacang Bontonowa

Kalau sudah sampai Gowa, rasanya sudah dekat ke Makassar. Tapi berhubung kami sampai senin sore, jadi jalanan cukup macet peak hour pulang kantor. Akhirnya sekitar 1.5 jam kemudian, kami sampai di rumah.

Liburan ke Tanjung Bira ini cukup menyenangkan. Apakah ini wajib dikunjungi oleh wisatawan luar pulau? Buat saya sih ngga terlalu ya, apalagi klo sudah mengunjungi pantai-pantai lain di Indonesia yang ngga kalah cantik. Tapi kalau pas ke Makassar dan waktunya cukup panjang, boleh banget disempatkan mampir ke sini.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s