Pantai Bira Pasir Putih

Tanjung Bira (bagian 2): Pantai Bira dan Sekitarnya

Setelah berjam-jam perjalanan dari Makassar, kami sampai di Pantai Bira sekitar pukul 18:30, dan langsung menuju Hakuna Matata Resort, tempat menginap malam itu. Untuk masuk ke kawasan Pantai Bira, kami harus membayar Rp 15,000 per orang. Harga kamar di Hakuna Matata mulai dari 900rb-an jika membeli lewat Traveloka, atau 1jt-an untuk tamu yang walk-in. Kami mendapat cottage di ujung, mungkin sekitar 200m dari lobi resort. Enaknya, areanya luas, jadi kalau bawa kendaraan sendiri bisa diparkir langsung di depan cottage. Ngga perlu jalan dulu ke parkiran depan kalau mau keluar.

Kamarnya jujur sih biasa banget untuk ukuran harga sejuta. Di beberapa bagian malah ada dinding yang gompil, kayak bangunan yang belum jadi. Trus ada bekas-bekas sampah kecil dan puntung rokok di sudut-sudut kaca, jijik deh liatnya. Apalagi pas lihat kamar mandinya, reaksi pertama adalah: WTF???

Hakuna Matata Resort

Hakuna Matata Resort

Tapi berhubung kami udah capek banget, resepsionis jauh, dan ngga ada telepon di kamar, jadi kami pasrah. Toh cuma buat tidur semalam, besok udah cus ganti hotel. Malam itu kami makan di Salassa Restaurant & Guest House, yang rating-nya cukup bagus di TripAdvisor. Kami suka vibe-nya, laid back banget dan pemiliknya (sekaligus chefsuper friendly. Harga makanan rata-rata di atas 50rb, jadi ngga murah-murah banget untuk ukuran Tanjung Bira.

Salassa Restaurant

Salassa Restaurant

Jam 8-an restoran makin penuh, sampai pemiliknya harus menolak pengunjung yang datang, karena waktu tunggu memasak yang akan terlalu lama. Makanan kami berdua datang sekitar 1 jam kemudian (suami sampai sempat tidur dulu, hahahaha), tapi rasanya memang sangat memuaskan. Tipe masakannya fusion, jadi dia pakai bumbu lokal dengan rasa internasional. Highly recommended deh.

Salassa Restaurant

Salassa Restaurant

Keesokan paginya, kami sarapan di resort dan berjalan-jalan melihat areanya. Meski kamarnya ngga banget dan sarapannya biasa aja, saya harus akui kalau area Hakuna Matata Resort memang cantik. Letaknya juga pas banget di sebelah Pantai Bira Pasir Putih, jadi gampang kalau mau jalan-jalan.

Saya juga sempat berenang di kolam renang yang letaknya di belakang cottage.

Kami lalu berjalan ke Pantai Bira, dan sempat didekati oleh beberapa orang yang menawarkan penyewaan kapal. Beberapa aktivitas yang biasa dilakukan wisatawan di Pantai Bira adalah island hopping ke pulau-pulau sekitarnya, snorkeling, dan main banana boat. Saya & suami kebetulan ngga berminat ngapa-ngapain, hahahaha, jadi kami cuma menyusuri pantai ke arah Pantai Bara, yang katanya lebih bagus dan lebih sepi daripada Pantai Bira.

Sebelum berangkat ke sini, saya sering baca kalau Pantai Bira ini kotor, ngga menarik, kumuh, dsb. Tapi menurut saya sih engga ya, pantainya cukup bersih kok. Ada beberapa tumpukan sampah, tapi itu sampah yang terbawa arus dan posisinya bukan di pas di pantai. Jadi ngga mengganggu wisatawan yang beraktivitas di pantai. Sebelum sampai ke Pantai Bara, kami berhenti di pantai di bawah Cosmos Bungalow, lalu naik ke atas untuk ngaso di restonya. Kami memutuskan untuk tidak melanjutkan jalan kaki menyusuri pantai, karena air laut sudah mulai tinggi.

Ngemil di Cosmos Bungalows

Ngemil di Cosmos Bungalows

Kami berjalan kaki sekitar 2km melewati jalan aspal untuk kembali ke arah Pantai Bira. Makan siang kesorean hari itu adalah di Warung Melati, ngga jauh dari pantai. Harganya murah, tapi makanannya ya ngga terlalu wow. Mirip masakan rumahan gitu.

Makan siang di Warung Melati

Makan siang di Warung Melati

Habis itu kami mengambil tas dan motor dari Hakuna Matata (sudah cekout sebelum jalan-jalan ke pantai), dan menuju penginapan kami berikutnya, yaitu Woywoy Sunrise Bira. Lokasinya di luar komplek Pantai Bira, tapi ngga begitu jauh. Cottage-nya lucu sekali, warna-warni seperti bathing box di Brighton Beach, Australia. Interior dan fasilitas cukup basic, tapi unik, bersih, dan ber-AC (yeay!). Harganya juga murah, tapi memang di daerah sini ngga ada apa-apa, bahkan warung makan.

Sorenya, kami kembali ke Pantai Bira untuk menikmati pemandangan matahari terbenam. Menjelang sore di hari minggu, Pantai Bira sudah sepi. Kemungkinan besar karena wisatawan yang berasal dari Makassar dan kota-kota lain di Sulawesi Selatan sudah bergerak pulang ke daerahnya masing-masing.

Sunset at Bira Beach

Sunset at Bira Beach

Malamnya kami makan di Warung Bambu. Di sini makanannya cukup enak dan ngga mahal. Cuma mejanya ngga banyak, jadi harus share dengan pengunjung yang lain.

Makan malam di Warung Bambu

Makan malam di Warung Bambu

Total kami sudah 2 malam di Tanjung Bira, dan besok harus kembali ke Makassar karena suami ngantor, hahahaha. Kita lanjut cerita pulangnya di postingan berikutnya ya…

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s