Ladang Garam Jeneponto

Tanjung Bira (bagian 1): Berangkat!

Tanjung Bira terletak sekitar 200km sebelah tenggara Makassar. Menurut info yang saya baca, klo berangkat dari Makassar, bisa naik bus jurusan Selayar dari Terminal Malengkeri. Nanti turunnya di Pelabuhan Bira, dan dari situ ke kawasan wisata bisa berjalan kaki atau naik ojek, sekitar 1km. Jalanan secara keseluruhan mulus, mungkin ngga sampai 10km ruas yang berlubang atau rusak. Waktu tempuh non-stop dengan mobil sekitar 4-5 jam, atau 6 jam jika naik motor. Iya, naik motor.

Berangkat!

Berangkat!

Kami berangkat hari Sabtu pagi jam 9:45 dari Makassar. Untuk yang mau ke sana naik motor atau naik mobil dengan banyak berhenti, saya ngga sarankan untuk berangkat sesiang itu. Kami akhirnya sampai Tanjung Bira malam hari, dan jalan di dekat sana gelap tanpa lampu jalan.  Anyway, waktu itu kami memilih melalui Jl. Poros Galesong sampai bertemu dengan Jl. Poros Takalar – Jeneponto. Setelah sekitar 2.5 jam berkendara, kami beristirahat di daerah Bangkala, Jeneponto. Ada resto kecil tanpa nama di samping Alfamidi Bangkala yang ternyata menyajikan ayam dan ikan bakar yang enak. Tanpa mahal, tentunya.

Makan siang yang nikmat

Makan siang yang nikmat

Kami meluruskan kaki sekitar 45 menit, lalu melanjutkan perjalanan di Jl. Poros Takalar – Jeneponto. Jeneponto terkenal akan 3 hal: Garam, Kuda, dan Jagung. Tiga komoditas tersebut dihasilkan dalam jumlah besar, menjadikan Kab. Jeneponto salah satu daerah penghasil garam, kuda, dan jagung utama di Sulawesi Selatan, bahkan Indonesia. Sepanjang jalan kami melihat hamparan ladang garam, bulir-bulir jagung dijemur, serta kuda-kuda sedang merumput. Sungguh pemandangan yang memanjakan mata.

Ladang Garam Jeneponto

Ladang Garam Jeneponto

Sekitar 45 menit kemudian, kami sampai di Masjid Agung Jeneponto, dan memutuskan untuk singgah untuk sholat dan ngadem (hahahaha). Setelah 20 menit beristirahat, kami bergerak lagi mengikuti jalan, lalu masuk ke Jl. Poros Jeneponto – Bantaeng. Berkendara selama 1 jam 15 menit, kami sampai di kota berikutnya dan disambut oleh sungai tanpa sampah, jalanan bersih, trotoar lebar, dan taman yang rapi. Ya, kami sudah sampai di Bantaeng.

Kabupaten ini memang maju pesat di bawah kepemimpinan Bupati Nurdin Abdullah. Secara fisik, kotanya disulap jadi bagus dan rapiii. Jalan-jalan di sini rasanya kayak pergi ke negara tetangga yang super bersih. Saya lihat memang banyak petugas kebersihan dan semacam pamong praja untuk menjaga ketertiban. Kami beristirahat 1 jam lebih di Pantai Seruni, Kota Bantaeng. Sebenernya di sini ngga ada bibir pantainya, tapi lokasinya ditata rapi banget dan diberi fasilitas pujasera outdoor. Berhubung saya di sana sekitar jam 3 sore, jadi lokasinya belum terlalu ramai. Semakin sore akan semakin ramai, banyak orang berjalan-jalan sambil menikmati pemandangan matahari tenggelam.

Kami meninggalkan Pantai Seruni sekitar pukul 4:30 sore. Masih ada 70km lagi menuju Tanjung Bira, yang akhirnya kami tempuh selama 2 jam non-stop naik motor. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, jalan menuju Tanjung Bira tanpa lampu penerangan dan tidak banyak rumah penduduk. Jadi setelah matahari terbenam, kondisinya pun gelap gulita. Lagipula Jl. Poros Bira – Bulukumba hanya menuju daerah Tanjung Bira dan sekitarnya, bukan jalan akses menuju bagian lain dari Sulawesi Selatan. Jadi jalanannya memang sepi. Sekitar pukul 6:30 akhirnya kami sampai ke resort tempat menginap di hari pertama. Total waktu tempuh naik motor: 6 jam lebih + 2.5 jam istirahat.

Bersambung di postingan berikutnya yaaa…

Advertisements

One thought on “Tanjung Bira (bagian 1): Berangkat!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s