Pura Mangkunegaran

Itinerary: Joglosemar 5D4N

Intermezzo dulu…

Saya cukup sering menerima pertanyaan itinerary (rencana perjalanan) liburan ke kota tertentu. Enaknya sih memang dijawab dengan, “Elo maunya ke mana? Coba di-list perginya mau ke mana aja, nanti gw bantu susun rutenya.” Tapi kadang orangnya benar-benar ngga punya bayangan mengenai daerah yang akan dituju, atau memang belum terbiasa bikin rencana perjalanan, jadi malah bingung sendiri, hahahaha. Di sini saya merasa bahwa tulisan mengenai rencana perjalanan yang sudah jadi, ternyata cukup penting. Untuk pelancong baru, mereka mendapatkan rute yang proven, terutama urusan efisiensi waktu dan jarak tempuh. Untuk pelancong lama, mereka tinggal memodifikasi rutenya sesuai kebutuhan, dan tidak perlu menyusun dari awal.

Saya senang karena ternyata itinerary saya membantu orang lain, baik yang newbie maupun oldie. Untuk melihat beberapa tulisan itinerary dari saya, silakan meluncur ke sini:

https://cabinbag.wordpress.com/category/travel/itinerary/

Sekarang balik ke topik ya…

KAMIS

11:05 – Pesawat mendarat di Adisutjipto International Airport, Yogyakarta dan supir mobil rental sudah menanti untuk menjemput kami. Karena pergi dengan 4 orang dewasa +  1 bayi, saya memesan Toyota Innova dari Buana Mandiri Transport. Kenapa di BM? Karena tarifnya paling murah, hahahaha.

12:00 – Cekin di De Pendopo Homestay (saya pernah review di sini), ambil rumah paviliun dengan 3 kamar. Penginapannya masuk ke gang, tapi ngga masalah karena mobil bisa menunggu di pinggir jalan. Setelah beberes sebentar dan ganti baju, kami berangkat ke Pasar Beringharjo.

Teras paviliun De Pendopo Homestay

Teras paviliun De Pendopo Homestay

13:30 – Sowan ke tukang pecel dan sate legi Pasar Beringharjo, hahahaha. Oh iya, untuk perjalanan kali ini, semua makanan selama di Jogja sudah saya tulis di sini.

15:00 – Sampai di Museum Ullen Sentalu dan mengikuti tur berpemandu. Sesudahnya tidak lupa mimik cantik di Beukenhof Restaurant. Sekitar jam 5 sore kami bergerak kembali ke hotel sambil mampir ke Jadah Mbah Carik untuk membeli jadah (ketan/uli) dicampur tahu & tempe bacem.

Foto dulu di Resto Beukenhof

Foto dulu di Resto Beukenhof

18:00 – Tiba kembali di De Pendopo Homestay. Mandi dan selondjoran sebentar, lalu sekitar jam 8, saya dan Sisca keluar lagi untuk mencari makan. Yang lain memutuskan untuk istirahat di homestay.

20:30 – Nongkrong di Secret Garden yang tempatnya bagus, kayak taman-taman di luar negeri dan berhiaskan lampu-lampu. Pilihan menunya waktu itu kurang banyak, jadi kami ngga makan berat di sana.

22:00 – Lanjut ke Lesehan Burung Dara SBTB (Sebelah Barat Terang Bulan), salah satu tempat makan favorit saya. Kami cuma ngebungkus burung daranya buat sarapan besok. Habis itu makan malam di Sego Koyor Bu Parman, sebelum balik ke hotel untuk tidur.

Sego Koyor Bu Parman

Sego Koyor Bu Parman

 

JUMAT

09:00 – Kami sampai di Jogja Gallery untuk melihat pameran Wacinwa (Wayang Cina Jawa). Wacinwa/Wayang Thithi diciptakan oleh Gan Thwan Sing, dan populer pada tahun 1925 – 1966. Wacinwa yang dipamerkan di Jogja Gallery adalah koleksi dari Museum Sonobudoyo yang terletak tidak jauh dari situ. Menjelang jam 10 kami bergerak ke arah Bantul sambil mampir ke Rujak Es Krim Pakualaman.

Wayang Cina Jawa/Wayang Thithi

Wayang Cina Jawa/Wayang Thithi

11:00 – Perhentian berikutnya adalah Abekani Leather, pengrajin tas dan dompet kulit favorit saya. Setelah puas ngobrol dengan Mbak Tunjung dan cuci mata menikmati tas-tas cantik yang ada, kami berangkat ke arah pantai di Gunung Kidul.

13:30 – Sampai juga ke Pantai Indrayanti, sekitar 1.5 jam perjalanan dari Jogja. Kami sengaja menyusuri pantai terjauh dulu, baru bergerak perlahan ke arah kota. Berhubung belum makan siang, kamu sekalian makan siang dengan seafood di pinggir pantai, yang ternyata mengecewakan…

Sunset di Gunung Kidul

Sunset di Gunung Kidul

Kami menghabiskan waktu sampai matahari terbenam (menjelang jam 6 sore) untuk menyusuri beberapa pantai di Gunung Kidul. Saya sudah menulis catper yang lebih lengkap di sini.

20:00 – Sampai di De Pendopo Homestay, lalu mandi dan istirahat sebentar. Sekitar jam 21:30, saya dan (lagi-lagi) Sisca keluar untuk makan malam.

21:30 – Makan malam di Warung Bu Ageng. Berhubung nginep di Prawirotaman, kami tinggal jalan kaki ke Bu Ageng. Makanannya kayak masakan rumahan yang di-elevate, saya suka deh. Habis dari Bu Ageng, kami balik ke homestay untuk tidur.

 

SABTU

07:20 – Saya, Siska, dan Arya berpisah dengan rombongan Iqbal dan keluarganya. Kami bertiga lanjut naik kereta Pramex menuju Solo, dengan waktu tempuh sekitar 1.5 jam.

Di atas kereta Pramex Yogya - Solo

Di atas kereta Pramex Yogya – Solo

09:15 – Kami sudah duduk manis di Kedai Soto Triwindu setelah naik taksi dari Stasiun Balapan. Kedainya jadul banget, dengan tiang-tiang penyangga atap yang besar. Sebenernya enak tempatnya, berasa balik ke masa lampau. Tapi gerahhhh banget. Untung sotonya enak dan uba rampenya bikin ngiler semua. Oh iya, untuk semua makanan di Solo pada trip kali ini, sudah saya tulis di sini.

10:00 – Sampai di Pura (Istana) Mangkunegaran, sekitar 500m dari Soto Triwindu. Setelah membayar tiket masuk, kami mengelilingi Pura dengan didampingi pemandu. Pemandunya masih muda dan sangat informatif menceritakan sejarah Mangkunegaran. Kami menghabiskan waktu sekitar 1 jam dan cukup puas.

Pura Mangkunegaran

Pura Mangkunegaran

11:15 – Kami beristirahat di Omah Sinten yang terletak di seberang Pura Mangkunegaran. Restonya cantik dan menunya cukup ekstensif. Harga agak mahal untuk ukuran Solo, lebih cocok disebut harga Jakarta. Tapi terbayar dengan kenyamanan restonya.

12:30 – Sebagai makanan utama, kami menyantap Tengkleng Bu Edi Pasar Klewer, juga salah satu makanan favorit saya. Soal rasa tidak perlu diragukan, meski bumbunya ngga semedok harapan saya. Harganya ngga semurah makanan pinggir jalan lainnya, dan butuh perjuangan untuk antri dan panas-panasan.

Tengkleng Klewer Bu Edi

Tengkleng Klewer Bu Edi

13:00 – Kami mengunjungi Museum Batik Kuno Danar Hadi, yang pernah saya review di sini. Menurut saya, museum ini adalah salah satu yang layak dikunjungi berulang-ulang, karena secara berkala, pihak museum mengganti display dan tema batik yang dipamerkan. Karena hari itu kota Solo panas sekali, sesudahnya kami juga beristirahat di Restoran Soga yang berada di area museum.

14:30 – Cekin di Tune Hotel Solo (sekarang namanya Red Planet Solo). Hotelnya minimalis tapi adequate. Kamarnya ngga sesempit dugaan  saya, jarak antar 2 kasur malah masih muat ditaruh koper gede. Kamar mandi juga ngga sempit. Di dalam kamar ada gantungan baju, tv lcd, hair dryer, meja lipat, & safe deposit box. Lokasi cukup strategis, ngga jauh ke Mal Paragon maupun Taman Sriwedari.

Tune Hotel (Red Planet) Solo

Tune Hotel (Red Planet) Solo

15:30 – Sudah duduk manis di Bus Werkudara, untuk city tour keliling kota Solo. Mungkin karena sejak hari kamis sudah disuguhi tur berpemandu yang keren-keren (Ullen Sentalu, Pura Mangkunegaran, Museum Danar Hadi), jadi tur kali ini terasa hambar. Pemandunya sedikit berbicara, dan kalau bicara pun hal yang ngga informatif/ngga menarik. Mungkin sekarang udah jauh lebih baik.

17:30 – Sampai kembali di Tune Hotel. Mandi dan istirahat bentar sebelum cari makan malam, hahahaha.

19:30 – Mendarat di Galabo. Galabo adalah semacam pujasera outdoor yang buka malam hari di depan Pusat Grosir Solo. Hampir semua makanan khas Solo ada di sini, yang enak-enak pula. Saya pernah menulis tentang Galabo di sini. Buat saya, Galabo termasuk salah satu tempat yang must visit di Solo.

21:00 – Saya dan Sisca lanjut menonton pertunjukan Wayang Orang di Taman Sriwedari. Orang tua saya memang asli Jawa, tapi bahasa Jawa saya sebenernya ngga lancar-lancar banget. Tapi saya suka nonton wayang, baik orang maupun kulit, meski banyak ngga ngertinya hahaha. Pertunjukan wayang orang di Taman Sriwedari diselenggarakan setiap hari senin sampai sabtu, mulai pukul 8 malam. Harga tiketnya cuma 10rb, dan pas kami datang penuh banget, jadi cuma kebagian kursi di deretan belakang.

Punakawan

Punakawan

22:30 – Sebenernya belum laper banget, tapi berhubung pulang jam segitu jadi kami mampir di Nasi Liwet Wongso Lemu. Ngga nyesel sih, emang enak, anget, pulen, gurih, bikin tidur nyenyak…

 

MINGGU

08:00 – Cari sarapan dulu di Pasar Gede. Ini juga salah satu tempat yang harus didatangi kalau ke Solo, terutama untuk wisata kuliner dan beli oleh-oleh jajanan. Cerita tentang petualangan saya di Pasar Gede ada di sini.

Dawet Telasih

Dawet Telasih

11:00 – Setelah cekout dari hotel, kami sudah dijemput mobil sewaan untuk menuju ke Pusat Grosir Solo. Untuk leg terakhir ini, saya memilih menyewa mobil dari Semarang yakni dari Artha Rent Car. Ketika masuk PGS, yang pertama terlihat mungkin adalah toko-toko yang menjual pakaian dari batik cap yang kelihatan pasaran. Tapi kalau berjalan agak ke belakang, banyak juga yang bagus-bagus.

12:00 – Apalah artinya ke Solo klo ngga mampir ke Srabi Notosuman, hehehehe. Kami beli agak banyak untuk dimakan sepanjang perjalanan ke Sangiran dan Semarang. Klo ditanya enakan yang original atau cokelat, jujur saya ngga bisa jawab. Soalnya dua-duanya, sama-sama enak. Kami juga mampir ke toko oleh-oleh Mesran untuk membeli abon pedas kesukaan saya.

Srabi Notosuman

Srabi Notosuman

13:30 – Kami sampai di Museum Purbakala Sangiran. Museum ini kayak di tengah2 persawahan dan jauh dari mana-mana, tapi ternyata keren banget. Cerita detilnya pernah saya share di sini. Kami menghabiskan sekitar 1.5 jam di museum, sebelum kemudian bergerak ke Semarang.

17:00 – Sebelum masuk kota Semarang, kami mampir di Rumah Makan Apung Kampoeng Rawa di Ambarawa untuk beristirahat sejenak. Matahari sudah mulai tenggelam, jadi cahayanya bagus banget menyinari area Rawa Pening.

RM Apung Kampoeng Rawa

RM Apung Kampoeng Rawa

18:30 – Masuk kota Semarang dan tentu saja absen pertama dilakukan di Toko Oen. Klo ke sini udah ngga perlu buku menu lagi, pesennya selalu Bistik Lidah dan Poffertjes untuk dessert.

19:15 – Cekin di Tjiang Residence, lalu mandi dan istirahat sejenak. Hotelnya bersih dan basic, rate murah dan lokasi strategis di daerah pecinan. Tinggal jalan kaki klo mau ke Semawis. Kekurangannya cuma dia bentuknya ruko, jadi ngga ada jendelanya.

Tjiang Residence

Tjiang Residence

20:15 – Weekend di Semarang, tentu saja harus mampir ke Pasar Malam Semawis. Saya baru sadar klo saya belum pernah nulis soal semawis ya. Nanti deh klo ga males, hehehe. Intinya ini adalah pasar kaget di daerah pecinan Semarang, yang cuma ada saat weekend malam. Yang dijual mostly aneka makanan, baik halal maupun tidak. Pengunjungnya banyak warga keturunan Tiongkok, tua dan muda. Dan uniknya ada lapak karaoke yang biasanya penuh oleh opa-oma menyanyikan lagu-lagu jadul, hehehehe. Di sini ngga beli makanan berat, cuma beli Es Puter Conglik dan sosis gede.

21:00 – Makan beratnya di Nasi Goreng Babat BAHAGIA. Saya pernah baca klo ini comparable sama Nasi Goreng Babat Pak Taman, favorit saya. Ternyata saya kurang cocok, cuma menang pedes aja. Lokasinya deket pecinan juga (tinggal jalan kaki), di halaman Toko Mas Semar. Habis makan sudah cukup bahagia jadi kami lanjut tidur.

Nasi Goreng Babat BAHAGIA

Nasi Goreng Babat BAHAGIA

 

SENIN

04:00 – Mobil jemputan udah datang ke hotel. Kenapa pagi banget? Karena saya dan Sisca mau lihat matahari terbit di salah satu bukit di pinggiran Semarang.

04:45 – Sampai di parkiran lokasi tujuan dan masih gelap. Kami prasarapan dengan kue-kue dan nasi goreng babat yang dibeli malam sebelumnya. Sekitar jam 5:30, cahaya matahari mulai muncul di ujung timur. Kami berjalan ke arah Umbul Sidomukti, dan menikmati proses terbitnya matahari dari pinggir kolam renang. Pemandangannya memang cantik, worth it untuk dibela-belain bangun sebelum subuh dan ke sini. Umbul Sidomukti sendiri adalah kawasan wisata terpadu yang terdiri dari penginapan, restoran, arena outbound, wisata alam, dan bumi perkemahan.

Umbul Sidomukti

Umbul Sidomukti

09:30 – Setelah sarapan di hotel dan cekout, kami menuju Jl. Pandanaran untuk membeli aneka oleh-oleh. Saya membeli Lumpia Mbak Lien, bandeng presto, wingko babat, dan pia keju Dyriana. Selanjutnya kami bergerak ke warung favorit saya yakni Nasi Goreng Babat Pak Taman di dekat Stadion Diponegoro. Saya membungkus beberapa porsi nasi goreng untuk dimakan siangnya di rumah (Jakarta). Sehabis dari Pak Taman, mobil mengantarkan Sisca ke stasiun kereta, lalu saya dan Arya ke bandara untuk naik pesawat jam 12 siang.

Untuk liburan selama 5 hari 4 malam di 3 kota, ini ngga capek-capek banget kok. Pace-nya cukup santai, pas ke museum pun ngga diburu-buru, sempat mampir-mampir istirahat juga di kafe & warung. Yang capek malah makannya, banyak banget yang pengen dimakan selama 5 hari, hahahaha.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s