Pagoda of Ten Thousand Buddhas, Kek Lok Si Temple

Penang (bagian 4): Kek Lok Si Temple

Hari ini hari terakhir kami di Penang. Jam 9-an setelah sarapan dan check-out dari hotel, kami naik bis menuju Kek Lok Si Temple. Kek Lok Si Temple terletak di dekat Pasar Air Itam/Ayer Itam. Jadi klo mau ke sana, tinggal cari aja bis ke Air Itam. Atau bisa juga naik taksi (sekitar RM25) dan taksi online (sekitar RM15-20, tergantung kondisi lalu lintas).

Tiket bis

Tiket bis

Kami turun di Pasar Air Itam, dan mengikuti bau makanan yang menyeruak arah kerumunan orang. Di kiri jalan terlihat kios laksa dengan panci-panci raksasa berisi kuah panas mengepul. Laksa Pasar Air Itam memang salah satu makanan yang paling terkenal di sini (silakan di-google deh), dan tentu kami ngga akan melewatkannya.

(foto dari TripAdvisor)

(foto dari TripAdvisor)

Sejujurnya, ini adalah salah satu alasan kenapa saya mengajak berangkat jam 9 dari hotel, ngga lebih pagi. Karena si laksa baru buka jam 10:30, jadi pas kami sampai di sana baru buka, pengunjung belum terlalu ngantri. Laksanya luar biasa enak, gurih dan segar, tidak seasam Penang Assam Laksa di tempat lain. Kuahnya kental karena kaya bumbu, ngga machtig kayak laksa bersantan.

Laksa Pasar Air Itam

Laksa Pasar Air Itam

Sesudah kenyang menyantap laksa (dan aneka jajanan lainnya), kami berjalan mengikuti kerumunan orang. Ada gang kecil di antara deretan toko, dan di situlah rute pejalan kaki menuju Kek Lok Si Temple. Jalannya berupa ratusan anak tangga, yang di kanan-kiri diisi oleh toko pernak-pernik dan suvenir. Tangganya landai sih, tapi lumayan panjang. Kalau ngga mau capek, mending sewa mobil/naik taksi dari hotel dan minta didrop di parkiran atas.

Setelah melewati tangga-tangga, sampailah kami ke area Kek Lok Si Temple. Yang pertama terlihat adalah Tortoise Pond/Liberation Pond. Kura-kura adalah simbol umur panjang dan daya juang. Dalam agama Buddha, ratusan kura-kura yang dilepas bebas di kolam ini melambangkan sikap welas asih dan penyesalan terhadap dosa. Sayangnya, jumlah kura-kura yang terlalu banyak, tidak sebanding dengan ukuran kolam. Menurut kabar terakhir, kura-kura tersebut sudah dipindahkan dari Liberation Pond (yang telah menjadi rumah mereka selama 70 tahun), ke Oriental Garden. Oriental Garden memang lebih luas dan masih di area Kek Lok Si Temple.

Kura-kura di Liberation Pond

Kura-kura di Liberation Pond

Dari kolam kura-kura, area berikutnya adalah Central Court dengan kolam Seven-Tier Pagoda dan Circular Pavilion di dalamnya.

Kami kemudian menyusuri jalan beratap, menaiki tangga ke atas sampai ke Viewpoint. Di sini area utama Kek Lok Si Temple terlihat jelas, yaitu Pagoda of 10,000 Buddhas dan Middle Station Shrine Hall.

Pemandangan dari Viewpoint

Pemandangan dari Viewpoint

Berikutnya kami melewati gerbang bulat dengan relief Buddhis yang cantik, dan masuk ke lapangan dengan deretan patung Buddha. Jalan tersebut juga menuju Three-Tier Pagoda, The Hall of Laughing Buddha, dan bangunan berikutnya yakni Main Prayer Hall.

Dari Main Prayer Hall, kita bisa berbelok ke kiri menuju Kuan Yin Pavilion, atau kanan ke Pagoda of Ten Thousand Buddhas. Kami memilih jalan ke kiri. Untuk menuju Kuan Yin Pavilion, kita harus menaiki lift dulu dan membayar tiket (lupa berapa, tapi ngga mahal kok. Sekitar RM2-3 sekali jalan). Stasiun tempat naiknya terletak di dalam toko suvenir besar yang menjual aneka kerajinan tangan. Beberapa ada yang murah, tapi banyak yang mahal. Ada yang cantik, ada juga yang nyeremin, hahahaha. Dari atas lift kita bisa pelan-pelan melihat Kuan Yin Pavilion.

Sampailah kami di Kuan Yin Pavilion yang BESAR. Saya harus menulis dengan huruf kapital karena memang besaaaaaar sekali. Patung Dewi Kwan Im/Guanyin/Kuan Yin di sini tingginya 30.2m, hampir sama dengan tinggi tiang transmisi listrik 150kV (*uhuk*). Struktur yang melindungi patung tersebut berdiri setinggi 60.9m, setara dengan gedung 15 lantai. Saya hanya berfoto dari sisi luar dan agak jauh, soalnya udara panas banget dan kebayang capeknya kalau harus naik ke pavilion, hahahaha.

Selain patung Dewi Kuan Yin raksasa, di area tersebut juga ada patung Dewi Kuan Yin yang lama, yang rusak saat kebakaran tahun 1993. Ada juga taman yang cantik, dengan kolam ikan dan patung-patung zodiak Tiongkok. Dari lapangan di depannya, kita bisa mendapatkan pemandangan yang bagus ke arah kota George Town. Middel Station Shrine Hall juga terletak di sini, beserta toko suvenir, dan area parkir. Pengunjung yang membawa mobil sendiri bisa langsung turun di sini, tidak perlu naik dari tangga dekat pasar.

Kami kemudian kembali ke arah lift untuk turun, melewati toko suvenir dan berjalan ke Main Prayer Hall. Di sisi kanan Main Prayer Hall terdapat jalan menuju Pagoda of Ten Thousand Buddhas, melewati Grand Hall of Kek Lok Si. Bangunan ini adalah semacam ruangan besar yang biasa digunakan untuk pertemuan, seminar, ujian, dan pengangkatan biksu (mohon maaf klo istilah yang saya gunakan salah). Interiornya sangat-sangat cantik, penuh dengan ukiran dan hiasan warna-warni.

Berikutnya adalah salah satu bangunan utama di Kek Lok Si Temple, yakni Pagoda of Ten Thousand Buddhas. Pagoda ini dibangun pada tahun 1915 – 1930, dengan peletakan batu pertama dilakukan oleh King Rama VI, raja Thailand pada masa itu. Itu sebabnya pagoda ini memiliki nama lain Pagoda of Rama VI.

Pagoda of Ten Thousand Buddhas, Kek Lok Si Temple

Pagoda of Ten Thousand Buddhas

Yang unik dari Pagoda of Ten Thousand Buddhas adalah, bangunannya mengadopsi 3 gaya arsitektur. Bagian bawah dibangun dengan gaya kuil di Tiongkok, yakni alas berbentuk segi delapan, atap bertingkat-tingkat dan melengkung seperti ekor walet. Bagian tengah mengikuti gaya arsitektur Wat (candi) di Thailand. Sementara atapnya yang berbentuk kubah berspiral adalah arsitektur Birma.

Arsitektur Pagoda

Arsitektur Pagoda
(foto milik Cmglee – Wikimedia)

Di pagoda tersebut tentunya kita bisa menemukan aneka patung Buddha (hahaha). Di sisi luar, sisi dalam, di dinding, besar, kecil, you name it. Kami tidak naik sampai ke atas karena cuma punya waktu yang terbatas dan napas mulai ngos-ngosan.

Kami pulang mengikuti jalur berangkat, yakni lewat tangga dengan deretan toko suvenir. Sampai di bawah (Pasar Air Itam), kami mampir ke toko kue Seng Seng Hiang untuk membeli oleh-oleh Tau Sar Piah/Tambun Biscuit. Tambun Biscuit ini semacam bakpia campur nopia, jadi kulitnya flaky kayak bakpia, tapi tipis dan kering kayak nopia. Seng Seng Hiang juga menjual mini pie yang freshly baked, mirip kayak Ming Xiang Tai.

Tau Sar Piah (Tambun Biscuit)

Tau Sar Piah (Tambun Biscuit)

Menurut saya, kalau mau santai berkeliling Kek Lok Si Temple, siapkan waktu minimal 3 jam. Apalagi udara siang panas banget, baiknya ngga terlalu buru-buru dan banyak istirahat meneduh. Sepulang dari Kek Lok Si Temple, kami menumpang taksi online untuk ke hotel (mengambil koper/ransel) dan berangkat ke Penang International Airport di Bayan Lepas.

Perjalanan sekitar 30 menit ke Bayan Lepas mengakhiri petualangan kami selama 4 hari 3 malam menyusuri peninggalan bersejarah dan mencicipin makanan enak di Melaka dan Penang. Kesan saya adalah, kedua negara bagian ini cukup menyenangkan untuk liburan singkat dan wisata kuliner. Melaka City lebih laid back, apalagi di hari senin – kamis, karena tidak banyak turis lokal yang datang. Sementara George Town lebih mirip kota dengan segala keramaiannya. Tinggal dipilih mana yang lebih menarik, atau sekalian datangi keduanya.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s