Penang City Hall

Penang (bagian 3): Tempat Ibadah & Peninggalan Kolonial

Dari Ming Xiang Tai, awalnya saya pengen mampir ke Sekeping Victoria, karena reviewnya lumayan bagus. Tapi berhubung kami baru selesai ngemil & minum, dan dari luar kayaknya tempatnya kurang menarik, kami balik arah ke Lebuh Armenian. Kemudian kami masuk ke Jalan Masjid Kapitan Keling, salah satu jalan utama di zona inti George Town UNESCO World Heritage Site. Dulunya, jalan ini bernama Pitt Street, dari nama Perdana Menteri Inggris pada zaman itu, William Pitt the Younger. Jalan ini unik karena ada 4 bangunan rumah ibadah, dan dihuni oleh 4 komunitas masyarakat yang berbeda, beserta arsitektur bangunannya. Kami masuk dari sisi selatan jalan, tempat di mana Masjid Kapitan Keling berada.

Masjid Kapitan Keling

Masjid Kapitan Keling

Masjid Kapitan Keling dibangun pada tahun 1801 oleh Caudeer Mohuddeen, pemimpin masyarakat keturunan India (Kapitan Keling) pada saat itu. Kata ‘Keling’ berasal dari ‘Kalingga’, nama kerajaan di India. Namun, saat ini penggunaan kata ‘Keling/Kling’ sudah tidak dianjurkan karena memiliki makna peyoratif.

Area sekitar masjid adalah pemukiman warga muslim Tamil (Chulia), dan cukup banyak toko muslim di sana. Sekitar 100m kemudian, di sisi kanan jalan kami bertemu dengan Sri Mahamariamman Temple.

Sri Mahamariamman Temple

Sri Mahamariamman Temple

Pada tahun 1801, Sri Mahamariamman Temple hanyalah sebuah kuil kecil yang digunakan untuk berdoa kamu Hindu imigran dari India Selatan, yang bermukim di sekitarnya. Semakin lama, karena umat semakin banyak, mereka membutuhkan kuil yang lebih besar sebagai tempat ibadah bersama. Pada tahun 1833, Sri Mahamariamman Temple dibangun hingga seperti yang terlihat saat ini.

Kuil ini dibuka untuk umum setiap hari pada jam 6:30AM – 12PM dan jam 5PM – 9PM. Jangan lupa untuk meminta izin kepada pengurus dan melepas alas kaki jika ingin masuk ke dalam kuil.

Kuan Ying Teng Temple

Kuan Yin Teng Temple

Kuan Yin Teng Temple terletak sekitar 150m di sisi kiri jalan dari Sri Mahamariamman Temple. Sesuai namanya, kelenteng ini adalah tempat memuja Dewi Kuan Yin/Kwan Im, Dewi Kasih Sayang. Tempat ibadah umat Buddha dan Tao ini memilik nama resmi Kong Hock Keong Temple, atau kelentengnya orang Kong (Canton) dan Hock (Hokkien). Namun penduduk lokal lebih sering menyebutknya Kuan Yin Teng Temple.

Batu pertama kelenteng ini diletakkan pada tahun 1728, tapi banyak referensi menyebutkan bahwa kelenteng dibangun pada awal tahun 1800-an. Saat pembangunannya, kelenteng tidak digunakan untuk memuja Dewi Kwan Im, tapi Dewi Ma Zo/Tian Shang Sheng Mu, sang Dewi Laut. Ini karena pada masa itu, komunitas warga keturunan Tionghoa baru terbentuk di Penang, dan mereka membutuhkan pertolongan Dewi Ma Zo untuk melindungi perjalanan mereka mengarungi Laut Tiongkok Selatan. Semakin lama, warga yang menetap di Penang semakin banyak dan aktivitas mereka lebih banyak dilakukan di darat. Pada tahun 1824, dewan pengurus kelenteng kemudian mengganti dewi pelindung kelenteng menjadi Dewi Kwan Im.

Yang cukup unik adalah, Jakarta juga punya kelenteng Kwan Im Teng, yang sekarang dikenal dengan nama Kim Tek Ie/Vihara Dharma Bakti, di daerah Glodok. Kim Tek Ie dibangun pada tahun 1650, dan merupakan kelenteng tertua di Jakarta. Konon sejarahnya, pada jaman dulu ketika orang Tionghoa menanyakan jalan ke orang Betawi, si orang Betawi balik bertanya, “Cim, mau ke mana?” Dan dijawab oleh orang Tionghoa, “Ke Kwan Im Teng.” Dari sinilah kata ‘ke-len-teng’ berasal.

Kelenteng Kwan Im Teng/Kim Tek Ie

Kelenteng Kwan Im Teng/Kim Tek Ie (foto dari wikipedia)

Menurut artikel yang saya baca, Kim Tek Ie juga punya patung Dewi Ma Zo di dalamnya, dan kemungkinan dulunya juga kelenteng digunakan untuk memuja Dewi Ma Zo. Tapi saya belum menemukan literatur lebih lanjut mengenai ini. Saya kebetulan pernah ke Kim Tek Ie sekitar 2 minggu sebelum kebakaran besar yang terjadi pada bulan Maret 2015. Sayangnya waktu itu berbarengan dengan Hari Raya Imlek, jadi saya tidak bisa masuk ke dalam karena banyak umat yang sedang beribadah.

St. George's Church

St. George’s Church

St. George’s Church adalah rumah ibadah yang kami jumpai berikutnya, sekitar 150m dari Kwan Yin Teng Temple. St. George’s Church adalah Gereja Anglikan tertua di Malaysia, dan masih digunakan untuk ibadah sampai sekarang. Gereja bergaya Georgian-Palladian ini mulai dibangun pada 1816 selama 2 tahun, dan menghabiskan dana 60,000 dolar Spanyol. Angka ini cukup besar karena pada tahun 1819, Kerajaan Inggris membayar sejumlah uang yang sama untuk ‘membeli’ Singapura dan Sultan Johor.

Penang High Court

Penang High Court Building

Di ujung Jalan Masjid Kapitan Keling, diapit oleh Lebuh Farquhar dan Lebuh Light, terdapat Penang High Court Building. Bangunan yang pertama berdiri pada tahun 1808 ini, dulunya bernama Supreme Court Building, dan merupakan gedung pengadilan pertama di Malaysia, sekaligus tempat lahirnya sistem peradilan Malaysia modern. Pada tahun 1903, didirikan bangunan baru di lokasi yang sama untuk menggantikan bangunan yang lama, dengan gaya arsitektur Palladian seperti yang terlihat sekarang.

Penang Town Hall

Penang Town Hall

Dari Jalan Masjid Kapitan Keling belok kanan, lalu belok kiri di Jalan Padang Kota Lama, kami bertemu dengan Penang Town Hall. Bangunan ini dibangun pada tahun 1883, dan terdiri dari assembly hall (ruang pertemuan), grand ballroom (ruang dansa), dan perpustakaan. Selama puluhan tahun, Town Hall menjadi tempat berkumpul kaum elit dan sosialita Penang. Di sana diadakan pertunjukan teater, konser musik, ibadah gereja, wayang/teater bangsawan (khas Melayu), dsb. Penang Town Hall bahkan pernah menjadi lokasi syuting film Anna and the King (1999) yang dibintangi Jodie Foster dan Chow Yun Fat. Di akhir masa jayanya, Penang Town Hall sempat mengalami kerusakan di beberapa bagian. Namun sejak tahun 2004, renovasi sudah mulai dilakukan oleh National Museum Board.

Penang City Hall

Penang City Hall

Berdekatan dengan Penang Town Hall terletak Penang City Hall yang dibangun pada tahun 1903. Penang City Hall digunakan sebagai ruang perkantoran, menyokong fungsi Penang Town Hall yang lebih ke social event. City Hall juga adalah gedung pertama di Penang yang memiliki fasilitas lampu dan kipas angin listrik, sekaligus menandakan dimulainya elektrifikasi di George Town. Sampai sekarang, Penang City Hall masih digunakan sebagai kantor Majlis Perbandaran Pulau Pinang (City Council).

Esplanade

Esplanade (foto dari google street view)

Di depan Penang City Hall dan Penang Town Hall terdapat Esplanade (Padang Kota Lama), lapangan luas yang biasa digunakan masyarakat untuk berkumpul dan piknik. Di lapangan, ada juga beberapa kios makanan dan jualan lainnya, persis kayak di Indonesia, hehehe. Di sisi kiri, kami melihat laut, tapi kurang impresif dan tidak ada pantainya. Kami memilih untuk berjalan menyusuri Esplanade menuju Fort Cornwallis.

Cell Room, Fort Cornwallis

Cell Room, Fort Cornwallis

Setelah membayar RM20 per orang, kami masuk ke Fort Cornwallis. Cikal bakal benteng ini adalah pagar tembok dari batang kelapa yang dibuat Sir Francis Light pada tahun 1786, untuk mencegah serangan bajak laut dan pasukan tentara Kerajaan Kedah. Light kemudian mulai membangun benteng permanen pada tahun 1789 – 1793, sebelum meninggal tahun 1794. Benteng ini direnovasi pada masa pemerintahan Lieutenant Governor Farquhar tahun 1804, lalu pada tahun 1810 hingga menyerupai bentuk sekarang ini.

Ruang Mesiu, Fort Cornwallis

Gudang Senjata, Fort Cornwallis

Gudang Senjata ini dibangun pada tahun 1814 untuk menyimpan senjata dan amunisi. Bentuk bangunan serta ketebalan dindingnya dirancang supaya tahan terhadap ledakan dan serangan dari luar. Bangunan lain yang cukup menarik di Fort Cornwallis adalah kapel tua yang dibangun pada tahun 1799. Bangunan-bangunan tersebut masih berdiri tegak dan ruangan-ruangan di dalamnya bisa dimasuki.

Meriam Seri Rambai, Fort Cornwallis

Meriam Seri Rambai, Fort Cornwallis

Di sekeliling benteng terdapat beberapa meriam kuno terpasang. Yang paling terkenal adalah Meriam Seri Rambai yang dibuat pada tahun 1603 oleh Jan Burgerhuis, ahli tempa dari Belanda. Meriam ini tahun 1606 diberikan oleh VOC sebagai hadiah ke Sultan Johor atas kerja samanya. Pada tahun 1613, Kesultanan Aceh dipimpin Iskandar Muda menyerang Johor, menculik keluarga kerajaan dan merampas hartanya, termasuk Meriam Seri Rambai. Selama tahun 1613 – 1795, tidak ada catatan mengenai keberadaan Seri Rambai, kemungkinan besar masih di Aceh.

Tahun 1795, Sultan Aceh Alauddin Mahmudsyah, menghadiahkan meriam ini ke Sultan Ibrahim dari Selangor, sebagai ucapan terima kasih atas pertolongan Raja Nala (adik Sultan Selangor) dalam peperangan Aceh melawan Kerajaan Dusun. Pada tahun 1871, setelah insiden perompak Selangor yang menyerang kapal Inggris dari Penang, pemerintah kolonial Inggris menyerbu Selangor dan merampas Meriam Seri Rambai untuk dibawa ke Penang. Namun menurut legenda, Meriam tidak diturunkan di daratan, tapi ditenggelamkan di perairan lepas pantai dekat George Town.

Sembilan tahun kemudian, meriam tersebut tiba-tiba naik ke permukaan laut dengan sendirinya, atas ‘perintah’ seorang bangsawan Selangor. Meriam Seri Rambai kemudian ditaruh di Esplanade Penang, sampai dipindahkan ke Fort Cornwallis pada tahun 1950. Legenda lain yang dipercaya masyarakat Malaysia adalah, perempuan yang ingin hamil bisa berdoa dan menaruh bunga di bagian belakang meriam. Mirip dengan legenda Si Jagur dari Batavia, hehehe.

Queen Victoria Memorial Clocktower

Queen Victoria Memorial Clocktower

Dari salah satu sisi Fort Cornwallis, kami bisa melihat Queen Victoria Memorial Clocktower, icon kota George Town. Menara jam ini dibangun pada tahun 1897 oleh Cheah Chen Eok, salah seorang konglomerat Penang, untuk memperingati 60 tahun masa pemerintahan Ratu Victoria di Inggris. Sayangnya, Ratu Victoria sendiri tidak pernah berkunjung ke Penang, dan menara baru selesai dibangun tahun 1902, setelah ratu meninggal dunia. Jika dilihat secara langsung, Queen Victoria Memorial Clocktower agak miring sedikit di satu sisi akibat terkena bom Jepang saat Perang Dunia II.

Bangunan di King Street

Bangunan di Lebuh King

Jam sudah menunjukkan pukul 6 lebih, tapi langit masih terang-benderang. Kami memilih untuk berjalan kaki menuju hotel, menyusuri Lebuh King/King Street yang dipenuhi kelenteng dan rumah kongsi. Seperti yang tergambar di foto, dari kiri ke kanan:

  • Chong San Wooi Koon, adalah gedung perkumpulan klan dari distrik Heong San di provinsi Guangdong, Tiongkok Selatan. Dr. Sun Yat Sen juga berasal dari Heong San, jadi ngga heran bahwa di dalam bangunan yang berdiri sejak pertengahan abad XIX ini terdapat patung Dr. Sun Yat Sen.
  • Tua Pek Kong Temple, kelenteng yang dibangun untuk memuja Tua Pek Kong (Paman Tertua). Tua Pek Kong diyakini adalah sosok Zhang Li, warga keturunan Hokkien yang berencana pergi ke Sumatera, namun kapalnya dihantam badai dan akhirnya mendarat di Penang. Zhang Li sampai di Penang pada abad XVIII, 40 tahun sebelum kedatangan Francis Light. Masyarakat mulai memujanya pada pertengahan abad XIX dan membangun kelenteng untuknya.
  • Nin Yong Temple, adalah kelenteng klan dari distrik Toi San, provinsi Guangdong, Tiongkok Selatan. Klenteng ini digunakan untuk memuja Kwan Kung/Lord Kwan, Dewa Perang yang sering digambarkan dengan wajah merah dan memegang guandao, senjata tombak dengan ujung pedang.
Street food di Lebuh Chulia

Street food di Lebuh Chulia

Masuk ke Lebuh Chulia di dekat hotel, penjaja makanan sudah menggelar dagangannya. Aneka masakan mie, nasi, sate, gorengan, buah, dsb. bisa ditemukan dengan mudah di sini. Sebaiknya datang sebelum jam 9 malam, karena ketika kami keluar sekitar jam 9:30, sudah banyak kios yang sold out.

Nasi Briyani

Nasi Briyani

Malam itu akhirnya kami memutuskan untuk memesan nasi briyani, naan, dan mutton tandoori (klo ngga salah) dari Danish Briyani House. Alhamdulillaah, semuanya enak dan ngga mahal, hahahaha. Kami pun beristirahat untuk melanjutkan petualangan esok hari.

Advertisements

2 thoughts on “Penang (bagian 3): Tempat Ibadah & Peninggalan Kolonial

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s