Cheong Fatt Tze - The Blue Mansion

Penang (bagian 1)

Untuk perjalanan dari Melaka ke Penang, awalnya saya merencanakan naik kereta KTMB yang tiketnya bisa dibeli online seharga RM75. Stasiun terdekat adalah Pulau Sebang/Tampin, sekitar 40km dari Jonker Street. Sayangnya, seminggu sebelum berangkat, semua kursi sudah habis terjual *sedih*. Saya langsung mengubah rencana menjadi naik bus. Ada banyak pilihan jam keberangkatan bus yang bisa dibeli lewat EasyBook, tapi sebaiknya beli jauh-jauh hari juga kalau perginya lebih dari 2 orang.

Jonker Night Market

Jonker Night Market di malam hari

Kami naik bus dari Melaka Sentral, sekitar 20 menit naik taksi dari Jonker Street (RM20). Sesampainya di terminal, saya menuju counter bus untuk menukar booking confirmation menjadi tiket. Di tengah-tengah Melaka Sentral cukup banyak resto, termasuk McDonald’s yang buka 24 jam. Kami sempatkan membeli bekal, jaga-jaga kalau lapar selama perjalanan, hahahaha. Jadwal keberangkatan adalah jam 10PM, tapi lagi-lagi busnya datang terlambat 1 jam😦

Terminal Ferry Butterworth

Terminal Feri Butterworth

Sekitar jam 6 pagi, kami sampai di Terminal Butterworth. Butterworth adalah kota di sisi barat Semenanjung Malaysia, sekaligus gerbang menuju George Town, ibukota Pulau Pinang (Penang Island), yang bisa dicapai dengan naik feri atau jalan darat melewati Penang Bridge. Terminal Butterworth sendiri adalah transportation hub yang mencakup terminal bus, stasiun kereta, dan dermaga feri. Jika sampai di Butterworth menggunakan bus atau kereta, kita tinggal menyusuri jalur pedestrian beratap menuju terminal feri. Setelah membayar RM1.2 per orang, kami menunggu sekitar 15 menit sampai feri datang.

Feri ke Penang

Feri ke Penang

Ferinya sederhana banget, cuma terdiri dari bagian tengah yang cukup luas, dan sedikit bangku di sisinya. Saya langsung menggelar sarung Bali untuk duduk bareng di lantai. Tapi, berhubung perjalanannya cuma sekitar 20 menit-an, kami malah sibuk lihat pemandangan dan foto-foto, hehehehe. Jadwal resmi dan biaya naik feri bisa dilihat di sini.

Matahari terbit di Penang

Matahari terbit di Penang Island

Kami sampai di George Town sekitar jam 7 pagi, di dermaga yang lokasinya bersebelahan dengan terminal bus. Berhubung udah capek dan ngantuk, saya memutuskan untuk pesan GrabCar saja untuk mengantar ke hotel (RM5). Setelah mandi, beristirahat, dan sarapan, sekitar jam 10:30 kami mulai bergerak menyusuri kota George Town.

Mural di George Town, Penang

Mural di George Town, Penang

Dari hotel di Lebuh Chulia, kami menyusuri Love Lane, berbelok kiri ke Lebuh Muntri, lalu belok kanan ke Lebuh Leith. Oh iya, Lebuh = Jalan = Street, dan ketiga kata tersebut dipakai di Penang, hehehe. Sepanjang jalan bisa ditemui aneka mural yang merupakan salah satu ciri khas dari kota George Town. Mural di George Town bukan tanpa arti dan asal tebar saja. Banyak yang berisi sejarah dari tempat atau area mural terpasang, seperti mural yang terpasang di kedai tempat Jimmy Choo pertama kali belajar membuat sepatu.

Cheong Fatt Tze - The Blue Mansion

Cheong Fatt Tze – The Blue Mansion

Tujuan pertama kami adalah bekas rumah kediaman Cheong Fatt Tze, yang juga sering disebut dengan The Blue Mansion. Cheong Fatt Tze adalah miliarder Asia Tenggara yang hidup pada tahun 1840 – 1916. Rumah megah ini dibangun pada akhir abad ke-19, dan terdiri dari 38 kamar dan 5 halaman. Selain museum, sisi lain dari rumah juga diubah menjadi hotel butik dengan 16 kamar. Campuran batu gamping dan pewarna biru indigo pada dinding luar rumah menjadi ciri khas yang unik sekaligus fungsional. Cat tersebut menyerap kelembapan dan membuat rumah menjadi sejuk.

Tur di Cheong Fatt Tze Mansion

Tur di Cheong Fatt Tze Mansion

Cheong Fatt Tze Mansion hanya dibuka untuk umum pada jam 11, 14, dan 15:30, bersamaan dengan guided tour. Biaya mengikut tur ini adalah RM17, dengan durasi hampir 1 jam. Pemandu kami Pat sangat bersemangat menceritakan sejarah  Cheong Fatt Tze dan rumahnya. Di sini bebas mengambil foto, tapi menurut saya sesi bercerita di tengah terlalu lama, malah tur keliling rumahnya cuma sebentar. Meski begitu, banyak sekali benda dan alat peraga yang dipamerkan, jadi cukup puas juga.

Cheong Fatt Tze Mansion

Cheong Fatt Tze Mansion

Sayangnya, keturunan Cheong Fatt Tze tidak mewarisi darah bisnisnya, jadi sebagian besar bisnis dan properti yang pernah dimiliki Cheong Fatt Tze, satu-persatu mengalami kemunduran atau berpindah kepemilikan. Salah satu warisan Cheong Fatt Tze yang masih ada sampai sekarang adalah Changyu Pioneer Wine, yang merupakan salah satu dari 10 produsen anggur terbesar di dunia.

Ruko seberang Cheong Fatt Tze Mansion

Ruko seberang Cheong Fatt Tze Mansion

Di seberang Cheong Fatt Tze Mansion, terdapat sederetan ruko yang ternyata pernah digunakan oleh  Cheong Fatt Tze sebagai tempat tinggal pembantu, tukang kebun, juru masak, pengurus kuda, bahkan gundik dan dayang-dayang yang sudah tidak disukai oleh Cheong Fatt Tze dan keluarganya. Berkunjung ke Cheong Fatt Tze Mansion bikin saya tertarik untuk mengunjungi Tjong A Fie Mansion di Medan, yang kabarnya tidak kalah megahnya.

Mural di George Town, Penang

Mural di George Town, Penang

Jam sudah menunjukkan pukul 12:30 dan perut pun mulai terasa lapar. Kami menyusuri Jalan Penang dan menemukan mural-mural di atas. Tujuan kami adalah Lebuh Keng Kwee, untuk mencicipi Penang Road Famous Teochew Cendol.

Antrian Penang Road Famous Teochew Cendol

Antrian Penang Road Famous Teochew Cendol

Saat kami datang, antriannya memang bikin jiper. Tapi ternyata layanannya cukup cepat, jadi antrian cepat bergerak.

Cendol dan Ais Kacang dari Penang Road Famous Teochew Cendol

Cendol dan Ais Kacang dari Penang Road Famous Teochew Cendol

Cendolnya memang enak dan segar, apalagi di hari yang panas. Seperti Melaka, Penang juga cuacanya panas, jadi wajib pakai sunblock, baju nyaman, dan topi/payung jika perlu. Di belakang kedai Penang Road Famous Teochew Cendol, ada kedai Joo Hoi yang makanannya enak-enak dan tidak mengandung babi.

Kedai Joo Hoi

Kedai Joo Hoi

Berhubung jam makan siang dan kafe ini memang dasarnya selalu penuh, kami menunggu hampir 30 menit sampai makanan pertama datang, dan hampir 1 jam untuk makanan terakhir. Kafe ini modelnya kayak kopitiam di Sg, jadi ada beberapa kios makanan dan kita harus memesan satu-persatu. Dari kiri atas searah jarum jam: Char Kway Teow, Fried Oyster, Mee Curry, Assam Laksa, dan Seafood Popiah. Sehabis makan, kami lanjut berjalan kaki menuju spot berikutnya (berlanjut ke bagian 2).

One thought on “Penang (bagian 1)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s