IMG_0525

Malacca (bagian 2)

Setelah bertualang seharian di hari sebelumnya, hari ini jam 8 pagi, kami berjalan kaki ke Jalan Tokong untuk sarapan dimsum di Low Yong Moh. Sebenernya hotel menyediakan sarapan sederhana, tapi lebih seru makan dimsum di resto lokal kan? Makan sampai kekenyangan berdua habisnya RM36.3.

Aneka dimsum di Low Yong Moh (RM36.3)

Aneka dimsum di Low Yong Moh (RM36.3)

Di Jalan Tokong ada 4 rumah ibadah dari 4 agama, yakni klenteng Cheng Hoon Teng (Tao, Kong Hu Cu, Buddha), vihara Xiang Lin Si (Buddha), masjid Kampung Kling (Islam), dan kuil Sri Poyatha Moorthi (Hindu). Itu sebabnya, nama lain dari Jalan Tokong adalah Harmony Street. Sambil berjalan balik ke hotel, kami mampir di toko San Shu Gong untuk membeli oleh-oleh.

Toko oleh-oleh San Shu Gong

Toko oleh-oleh San Shu Gong

Setelah packing dan check-out, sekitar jam 10-an kami berjalan kaki menuju Dutch Square. Posisi hotel yang di Lorong Hang Jebat cukup strategis, belok kiri langsung masuk Jonker Walk, belok kanan menyeberang jembatan langsung masuk area Dutch Square.

Melaka River di siang hari

Melaka River di siang hari

Dutch Square/Red Square adalah area dengan bangunan-bangunan  berwarna merah bata yang didirikan antara tahun 1660 – 1700. Setelah menikmati hari sebelumnya (kamis) yang tenang dan laid back di sisi lain dari sungai, hari ini lautan turis mulai membanjiri Melaka, terutama di Dutch Square. Tidak heran, karena area inilah yang paling banyak muncul di foto-foto wisata Melaka. Bangunan-bangunan di area Dutch Square memang unik dan fotogenik.

Queen Victoria’s Diamond Jubilee Fountain

Queen Victoria’s Diamond Jubilee Fountain

Kami memilih menyusuri Jalan Laksamana sampai bertemu dengan Gereja St. Francis Xavier. Gereja ini dibangun tahun 1849 di atas tanah bekas gereja Dominica yang berdiri tahun 1553. Mengusung gaya Neo-Gothic, gereja ini mengambil nama santo Francis Xavier, untuk menghormati jasa-jasanya menyebarkan agama Katolik di Melaka pada awal abad ke-16.

Gereja St. Francis Xavier

Gereja St. Francis Xavier

Kami masuk gang di samping gereja dan mengikuti jalan di sisi belakang Dutch Square. Tidak ada turis yang melewati rute ini, jadi jalanan cukup sepi. Kami bersenang-senang dan mengambil aneka foto lucu, termasuk yang ini.

Duo Cicik di Melaka

Duo Cicik di Melaka

Dari sana kami berbelok kanan dan bertemu dengan Dutch Graveyard, pemakaman kuno yang dibangun pada akhir abad ke-17. Tahun 1670 – 1682, pemakaman ini digunakan oleh bangsa Belanda, kemudian tahun 1818 – 1838 oleh bangsa Inggris. Meski namanya Dutch Graveyard, di sana disemayamkan jenazah hanya 5 orang tentara Belanda dan 33 orang tentara Inggris beserta istrinya. Dekat Dutch Graveyard ini ada pintu belakang menuju Museum Istana Kesultanan Melaka. Sayang waktu itu pintunya ditutup, jadi kami harus memutar.

Dutch Graveyard

Dutch Graveyard

Kembali ke sisi tengah Dutch Square, kami berjalan ke A Famosa, benteng yang dibangun setelah penaklukan Malaka oleh Portugis pada tahun 1511. Benteng ini adalah salah satu bangunan Eropa tertua yang masih berdiri di Asia Tenggara. Sebagian besar benteng sudah runtuh, dan menyisakan pintu gerbangnya yang disebut dengan Porta de Santiago.

Porta de Santiago, gerbang benteng A Famosa

Porta de Santiago, gerbang benteng A Famosa

Di belakang Porta de Santiago, ada tangga naik ke atas St. Paul’s Hill untuk melihat gereja tua St. Paul’s Church. Gereja ini awalnya adalah sebuah chapel yang dibangun tahun 1521. Pada perkembangannya, gereja ini pernah menjadi gereja Katolik, gereja Protestan, bahkan gudang penyimpanan peluru saat Belanda menyerang Jawa pada tahun 1810.

St. Paul's Church

St. Paul’s Church

Di area sekitar Dutch Square bertebaran aneka museum dengan tiket masuk yang murah, bahkan gratis. Kebetulan saya datang hari jumat siang, jadi semua museum tutup break sholat Jumat. Catatan untuk yang datang ke Malaka dan mau main ke museum-museum, sebaiknya atur jadwal ke sana Jumat pagi atau Jumat sore sekalian.

Memorial Pengisytiharan Kemerdekaan Malaysia

Memorial Pengisytiharan Kemerdekaan Malaysia

Kami memutuskan untuk kembali ke sisi lain jembatan ke arah Jonker. Ngemil-ngemil dan minum-minum, juga browsing barang-barang lucu yang dijual di toko-toko sepanjang Jalan Hang Jebat.

Aneka mangkok & sendok ayam

Aneka mangkok & sendok ayam

Di Jalan Hang Jebat juga ada Mamee Jonker House, resto sekaligus museum bertema Mamee, tokoh kartun maskot mie instan. Ada tour membuat mie instan (buka mie rebus ya, hahahaha) juga. serta toko suvenir yang menjual aneka produk dan merchandise Mamee.

Aneka suvenir di Mamee Jonker House

Mamee Jonker House

Berhubung udah jam 3 dan saya baru makan sate sesiangan, kami mencari tempat makan siang yang proper. Awalnya mau ke Jonker 88 yang katanya enak, tapi begitu lihat antriannya langsung bergidik. Hari Jumat memang sejak pagi Melaka penuh dengan turis. Akhirnya pilihan jatuh ke Siew Tin’s Nyonya Kitchen. Di tripadvisor reviewnya kurang bagus, tapi ternyata makanannya enak-enak, meski memang agak mahal. Oh iya, semua makanan di sini halal. Pulangnya kami mampir lagi ke Christina Ee untuk beli oleh-oleh pineapple tarts.

Makanan di Siew Tin's Nyonya Kitchen

Makanan di Siew Tin’s Nyonya Kitchen

Sehabis makan, kami kembali ke Lorong Hang Jebat untuk menuju Cheng Ho Cultural Museum. Setelah membayar RM20/orang, pengunjung diajak menonton film singkat tentang Cheng Ho dan sejarah maritim dunia. Setelah menonton, kita bisa melihat diorama, ilustrasi, dan aneka peninggalan Cheng Ho. Museumnya cukup besar dan isinya cukup lengkap, sayang tanpa AC jadi gerah banget. Saya cukup terpukau di sini, melihat betapa hebatnya Cheng Ho menyebarkan kebudayaan China dan membangun daerah yang pernah dia singgahi. Peninggalan Cheng Ho dan awak armadanya bisa dilihat mulai dari Indonesia sampai Afrika.

Cheng Ho Cultural Museum

Cheng Ho Cultural Museum

Kami keluar museum menjelang jam 5, dan Jalan Hang Jebat sudah mulai penuh dengan pedagang yang bersiap membuka lapak. Setiap Jumat dan Sabtu malam, Jalan Hang Jebat/Jonker Street memang disulap menjadi Jonker Night Market, salah satu tujuan utama wisatawan datang ke Melaka. Aneka barang dan makanan dijual di sana, jadi kalau ngga sempat wisata kuliner di Melaka, cukup datang ke Jonker Night Market. Kami sempat melihat-lihat sebentar sebelum penuh orang.

Jonker Night Market

Jonker Night Market

Menjelang jam 7, kami melepas penat di Hard Rock Cafe Melaka. Lokasinya strategis di pinggir Malacca River, cocok untuk bersantai sambil memandang matahari terbenam. Malam itu, petualangan kami di Melaka berakhir seiring berangkatnya bis yang akan membawa kami ke Penang. Sampai bertemu di cerita berikutnya!

One thought on “Malacca (bagian 2)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s