Konfirmasi dari Airbnb

My Horrible Airbnb Experience

Tulisan ini tidak ditujukan untuk mendiskreditkan Airbnb. Saya hanya ingin berbagi pengalaman pribadi.

Saya sudah cukup lama menggunakan Airbnb untuk mencari penginapan menjelang liburan. Namun setelah dibandingkan, biasanya: 1) Kalau pergi sendiri/berdua, biayanya ngga jauh beda sama hotel, 2) Kalau ramean sewa rumah/apt/villa, yang murah lokasinya kurang strategis. Jadi ujung-ujungnya sih tetap menginap di hotel konvensional.

Tahun lalu, saya berencana menonton F1 Singapore bersama beberapa teman. F1 jadwalnya di bulan September 2015, namun saya tau itu peak season, jadi saya mulai mencari penginapan 6 bulan sebelumnya. Berhubung rombongan 10 orang, pilihan jatuh pada apartemen 3 kamar di daerah Serangoon, yang bisa dipesan via Airbnb. Transaksi pun dilakukan di bulan April 2015, Airbnb mendebet kartu kredit saya sekitar 10jt untuk sewa apartemen 3 malam.

Bulan April, 5 bulan sebelum balapan di September. Saya merasa senang karena bisa dapat apartemen dengan harga yang terjangkau meski peak season. Kami pun makin ngga sabar menunggu saat keberangkatan menonton F1.

Awal Agustus 2015, saat sedang liburan ke Jawa Timur, saya menerima email dari Airbnb

Unfortunately, we have some bad news about your upcoming stay at xxx.

Your reservation for 18 September, 2015 – 21 September, 2015 was cancelled. We know this is an inconvenience, and we want to do everything we can to make it easy for you to find a great alternative right away.

Agustus, 1 bulan menjelang event, saat seluruh penginapan mengenakan tarif peak season, dan reservasi saya dibatalkan sepihak. Kompensasi yang diberikan hanyalah full refund atau tambahan ekstra 10% jika saya memutuskan untuk menyewa tempat lain via Airbnb. Dan tentu saja, sebulan menjelang acara, ngga ada lagi penginapan layak untuk 10 orang di Airbnb, dengan bujet yang hanya ditambah 10%.

Saya mau marah-marah ke Airbnb pun ngga akan membantu, karena kebijakan Airbnb ya cuma segitu. Mereka kan cuma calo, ngga punya kuasa kalau tiba-tiba pemilik tempat menjual propertinya, atau memutuskan untuk berhenti jadi member. Kompensasi tambahan 10% mungkin cukup layak pada kondisi normal, tapi saat peak season mah nyaris ngga ada gunanya.

Pelajaran yang bisa diambil? Sh*t happensGet over it. Move on. Saya ngga kapok kok pakai jasa Airbnb lagi. Tapi untuk peak season kayaknya akan pikir-pikir dulu. Kejadian ini mungkin hanya satu di antara seribu atau sejuta, tapi cukup buat pelajaran bahwa kemungkinan terburuk bisa terjadi.

3 thoughts on “My Horrible Airbnb Experience

    • Dinda says:

      Gw ngga pernah ngalamin untuk hotel sih. Tapi kebayang klo hotel berani ngaco kan tinggal posting di socmed, blog, & situs travel review macam TripAdvisor gitu. Abis lah dia, orang bakal mikir2 mau nginep di sana. Klo hotel Indonesia, ancaman masuk ke surat pembaca juga masih mempan kok.

      Klo airbnb, hostnya ngaco kita ga bisa apa2. Kayak kasus gw, hostnya delete semua property dia. Bad review pun ga ada artinya

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s