Cabuk Rambak

Kuliner Pasar Gede Hardjonagoro (Solo)

Pasar Gede, seperti namanya, adalah pasar terbesar di kota Solo. Dirancang oleh arsitek Belanda, Pasar Gede selesai dibangun pada tahun 1930. Beberapa situs daring menuliskan bahwa penamaan Hardjonagoro diambil dari nama cucu kepala pasar saat itu, yakni Go Tik Swan (Kanjeng Raden Tumenggung Hardjonagoro). Namun menurut Wikipedia, justru gelar kebangsawanan Go Tik Swan (KRT Hardjonagoro) yang diambil dari nama pasar yang pernah dikepalai kakeknya. Go Tik Swan sampai sekarang masih dikenal sebagai seniman batik yang mumpuni.

Pasar Gede Hardjonagoro (foto dari Wikipedia)

Pasar Gede Hardjonagoro (foto dari Wikipedia)

Di pintu depan pasar, sebelah kiri ada ibu-ibu penjual Gempol Pleret. Gempol pleret adalah minuman yang terbuat dari santan diberi bola-bola dari tepung beras. Tekstur bola-bolanya agak berpasir, ngga mulus kayak bola-bola ronde. Sejujurnya saya kurang suka ini, hahahaha. Menurut info dari seorang teman, es gempol pleret yang enak ada di Pasar Johar, Semarang.

Gempol Pleret

Gempol Pleret

Masuk ke dalam pasar, saya melihat penjual Cabuk Rambak. Cabuk artinya wijen atau ampas wijen yang sudah diambil minyaknya. Rambak sesungguhnya berarti kerupuk kulit, elemen cabuk rambak pada jaman dahulu. Tapi sekarang cabuk rambak disajikan dengan kerupuk karak/lempeng.

Penjual Cabuk Rambak

Penjual Cabuk Rambak

Ini penampakan cabuk rambak yang udah jadi. Mirip lontong disiram sambel pecel ya? ‘Sambal’-nya dibuat dari wijen, kemiri, kelapa, daun jeruk, dan bumbu-bumbu lainnya. Ini enakkkkk banget. Klo ngga mikirin mau jajan yang lain-lainnya, saya pasti udah nambah beli lagi.

Cabuk Rambak

Cabuk Rambak

Grontol, tiwul, gatot, cenil, dan teman-temannya di Solo disebut dengan Lenjongan. Di sini jualannya lengkap dan variatif, baik uba rampenya grontol, maupun aneka kue-kue basah termasuk serabi. Penjual grontol ini masih cukup mudah ditemui di pasar tradisional Jakarta jadi saya ngga nyoba.

Penjual Grontol, Tiwul, dan sebangsanya

Penjual Grontol, Tiwul, dan sebangsanya

Penjual lenjongan juga menyediakan Jadah Blondo. Sesuai namanya, makanan ini terbuat dari jadah (ketan/uli) dan blondo, sisa pengolahan santan yang dibuat minyak kelapa. Jadah yang gurih dipadu dengan blondo yang gurih-manis dengan aroma khas kelapa, sungguh nikmat.

Jadah Blondo

Jadah Blondo

Kemudian ada Brambang Asem, terdiri dari daun ubi yang disiram sambal. Kata ‘brambang asem’ diambil dari komponen utama pembuat sambalnya, yakni bawang merah (brambang) dan asam jawa. Ini juga enakkk, asem-manis-pedes kayak rujak. Untuk lauk pendamping ada tempe gembus yang dibacem, enak banget.

Penjual Brambang Asem

Penjual Brambang Asem

Ngga jauh pintu masuk pasar juga ada penjual Sate Ayam yang keliatan menggoda. Satenya panjang-panjang dan ada pilihan uritan kalau suka. Sedaaaap. Cocok buat yang nyari makanan agak berat di dalam pasar. Di sisi kanan ada tangga naik ke lantai 2, dan saya sempat liat penjual aneka kue dan bakpau. Bakpaunya isi daging babi, jadi saya ngga nanya lebih jauh (apalagi ngicip, hahahaha).

Sate Ayam & Uritan

Sate Ayam & Uritan

Di sisi belakang pasar berjejer penjual Dawet Telasih. Yang paling terkenal adalah kios Yu Dermi yang sudah berjualan selama tiga generasi.

Dawet Telasih

Dawet Telasih Yu Dermi

Komponen dari dawet telasih ada dawet (cendol), telasih (selasih), bubur ketan hitam, bubur sumsum, tape ketan, dan potongan nangka, lalu disiram kuah santan. Ini juga enak pake banget, die die must try.

Dawet Telasih

Dawet Telasih

Di Pasar Gede Hardjonagoro juga banyak penjual oleh-oleh seperti intip goreng, aneka keripik (usus, ceker, belut, dkk), aneka kerupuk, dan sebagainya. Banyak penjual yang memasak sendiri dagangannya, jadi kesegaran makanan tetap terjaga. Saya pulang dengan membawa keripik usus kesukaan saya, hehehehe.

Aneka Keripik Usus

Aneka Keripik Usus

Mohon maaf kalau sepanjang postingan banyak kata ‘enak’, ‘sedap’, dan teman-temannya. Sejujurnya memang banyak makanan di Pasar Gede masuk kategori enak, bukan cuma asal ada. Banyak juga makanan unik yang mungkin agak sulit ditemui di tempat lain. Kalau punya waktu agak lama di Solo, wajib banget mampir nyobain aneka jajanan di sini.

 

Pasar Gede Hardjonagoro
Jl. Urip Sumoharjo, Solo

 

One thought on “Kuliner Pasar Gede Hardjonagoro (Solo)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s