Masjid Raya Baiturrahman

Wisata Banda Aceh

Sebelum berangkat ke Banda Aceh, bos dan rekan-rekan kantor mengingatkan agar menyiapkan pakaian muslimah (tertutup) untuk dipakai di sana. Sesampai di bandara pun, staf kantor yang menjemput saya sudah siap mengantar ke pasar untuk membeli jilbab, hahahaha. Untung saya sudah mengenakan jilbab sejak berangkat dari Jakarta, jadi kami bisa langsung ke lokasi proyek.

Masjid Raya Baiturrahman

Masjid Raya Baiturrahman

Sorenya kami mampir ke Masjid Raya Baiturrahman untuk melaksanakan sholat ashar. Masjid icon kota Banda Aceh ini pertama kali dibangun tahun 1612, bahkan ada tulisan yang menyebutkan bahwa Masjid Raya Baiturrahman dibangun tahun 1292. Setelah beberapa kali terbakar dan direnovasi, Masjid Raya Baiturrahman dibangun seperti bentuk terakhirnya pada tahun 1988.

Masjid Raya Baiturrahman

Masjid Raya Baiturrahman

Interior masjid dihiasi dinding dan pilar-pilar berukir, kaca patri, dan lampu gantung antik. Pada abad ke-19, penduduk Aceh pernah tidak mau beribadah di Masjid Raya Baiturrahman karena dibangun oleh kaum kafir (Belanda). Sekarang, masjid ini menjadi kebanggan warga Banda Aceh.

Masjid Raya Baiturrahman

Menara Masjid Raya Baiturrahman

Masjid Raya Baiturrahman hanya mengalami sedikit kerusakan saat tsunami 2004. Bahkan, masjid ini digunakan sebagai tempat pengungsian sementara bagi warga Banda Aceh. Menara yang berada di belakang saya adalah salah satu menara masjid tertinggi di kota Banda Aceh.

Pelabuhan Banda Aceh

Jalan dekat pelabuhan Banda Aceh

Hari minggu pagi sepulang dari Sabang, saya diajak nongkrong di Lapangan Blang Padang. Lapangan ini selain digunakan untuk olahraga, juga banyak pedagang makanan, pakaian, mainan anak, dsb. Di sekitar Lapangan Blang Padang ini teredapat obyek wisata Taman Putroe Phang & Gunongan, Taman Makam Kerkhof, PLTD Apung, dan Museum Tsunami.

PLTD Apung

Monumen PLTD Apung

PLTD Apung sesuai namanya adalah pembangkit listrik tenaga diesel berbentuk kapal yang awalnya terletak mengapung di dekat pelabuhan Ulee Lheue. Kapal ini berukuran panjang 63m, berat 2600 ton, dengan pembangkit berkapasitas 10.5MW. Saat tsunami terjadi, PLTD Apung terseret gelombang sejauh hampir 5km, dan menghancurkan bangunan-bangunan yang dilewatinya.

PLTD Apung

PLTD Apung

Di sekeliling PLTD Apung sudah dibangun jalur pejalan kaki yang bagus dan bisa dilalui kursi roda. Ada juga taman yang teduh, ampiteater mini, serta museum kecil berisi foto-foto mengenai tsunami.

Foto masjid yang tidak terkena tsunami

Foto masjid yang tidak terkena tsunami

Selanjutnya kami ke Museum Tsunami yang berdiri sejak tahun 2009. Museum yang dirancang oleh Ridwan Kamil ini memang memiliki arsitektur bangunan yang keren banget.

Museum Tsunami

Museum Tsunami

Dari pintu masuk, kita akan melewati lorong yang dindingnya dialiri air dan diiringi suara lantunan ayat Al-Qur’an. Ini adalah penggambaran kondisi Aceh saat tsunami 2004, dan sungguh bikin merinding.

Museum Tsunami

Museum Tsunami

Bagian-bagian lain dari museum menggambarkan kondisi Aceh sebelum, saat, dan sesudah tsunami.

Museum tsunami

Museum tsunami

Ada juga monumen berisi nama-nama korban tsunami, juga diorama kejadian tsunami.

Museum tsunami

Museum tsunami

Bangunan museum berbentuk seperti gelombang bila dilihat dari atas. Sayang saya ngga bisa memfoto dengan baik, hehehehe.

Museum tsunami

Museum tsunami

Sebelum pulang, kami melewati Kapal Apung Lampulo, kapal nelayan yang terhempas ke atap rumah saat tsunami. Gampong Lampulo adalah salah satu kampung dengan kerusakan terparah saat tsunami, dan lokasinya dekat rumah sahabat saya, Yudha. Dia juga kehilangan ayah dan adik-adiknya saat bencana tsunami terjadi.

Kapal Apung Lampulo

Kapal Apung Lampulo

Epilog:

Sebelum berangkat ke Banda Aceh, saya sempat agak khawatir akan kondisi di sana, apalagi saya akan tinggal sendiri di hotel (teman-teman kantor saya tinggal di kost dekat dengan lokasi proyek). Saya menyiapkan pakaian yang longgar-longgar, mencoret celana jins dari packing list, menyiapkan kaus kaki banyak-banyak (karena katanya ngga boleh pakai sendal terbuka), dan segala keperluan lain untuk memakai jilbab secara syar’i.

Ternyata ya ngga segitunya. Perempuan-perempuan Aceh memang berjilbab, tapi dengan sederhana dan seperti menyatu dengan pakaiannya. Mereka ngga pakai baju ketat, tapi bukan juga baju berbentuk karung, hahahaha. Tidak pakai jins ketat maupun legging, tapi jins longgar cukup sering terlihat. Sandal juga dipakai dengan bebas, ngga perlu didobel dengan kaus kaki, hehehehe. Yang justru saya ngga pernah lihat adalah pemakaian jilbab dengan modifikasi berlebihan kayak hijabers kota besar. Benar-benar mencerminkan wanita muslimah sederhana.

Saya bersama Yudha dan keluarga

Saya bersama Yudha dan keluarga

Selama di Banda Aceh, saya dijamu oleh Yudha, Leli (istri Yudha), dan baby Shofie (yang kini sudah besar dan punya adik laki-laki). Saya diajak jalan-jalan dan makan-makan di kota kecil yang tenang dan bebas macet ini. Sungguh hiburan yang menyenangkan setelah beberapa hari berkutat dengan urusan pekerjaan. Saya juga tahu bahwa di Banda Aceh ngga ada bioskop dan cuma ada 2 mall kecil. Dan saya ngga melihat ada yang salah sih, bahkan mall-nya pun ngga rame lho. Penduduknya ngga haus hiburan kayak orang Jakarta, hahahaha. Yang saya sesalkan cuma 1: saya ngga bisa minum kopi karena perut ngga kuat (mual). Padahal Banda Aceh kota sejuta warung kopi, dan tiap beberapa puluh meter ada warung kopi dengan wangi yang semerbak. Tapi saya cuma bisa ngiler doang ngga bisa nyobain, huhuhuhu.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s