Kepala Budha di Wat Mahathat

Ayutthaya Historical Park (Thailand) bagian 1

Beberapa tahun lalu, saya beli buku The World’s Heritage dari UNESCO Publishing di bookdepository. Buku yang sangat tebal dan penuh dengan foto berwarna, berisi informasi mengenai situs World’s Heritage yang masuk dalam daftar UNESCO. Buku ini juga yang bikin saya tertarik mengunjungi Ayutthaya. Ayutthaya adalah sebuah pulau kecil yang dikelilingi sungai, dan pernah menjadi pusat perdagangan Asia serta kota terbesar di dunia pada abad ke-17. Didirikan padah abad ke-14, kemegahan Ayutthaya nyaris musnah setelah invasi oleh Burma pada abad ke-18. Meski begitu, masih banyak bangunan candi dan istana yang tetap bertahan dan bisa dikunjungi sampai sekarang.

CameraZOOM-20150524080557379

UNESCO The World’s Heritage

Ada beberapa cara ke Ayutthaya dari Bangkok, di antaranya:

  • Mobil pribadi atau sewa taksi, sekitar 1,200B
  • Kereta, naiknya dari Stasiun Hualamphong. Jadwalnya tertentu (tapi hampir setiap jam ada, bisa cek di sini), dan rel kereta di Bangkok selevel dengan jalan raya, jadi kadang harus berhenti saat lampu lalin berwarna hijau. Durasi sekitar 1.5 – 2.5 jam tergantung jenis kereta.
  • Bis, naiknya dari Northern Bus Terminal, Mo Chit. Bis berangkat setiap 20 menit, tapi banyak berhentinya. Durasi sekitar 1.5 – 2 jam tergantung berapa kali berhenti dan kondisi lalin dalam kota.
  • Kapal, ini yang paling menarik. Kita naik kapal menyusuri sungai Chao Phraya dari Bangkok sampai Ayutthaya, semacam napak tilas kondisi saat masa jayanya Ayutthaya. Pemandangannya memanjakan mata dan bisa berhenti di obyek wisata di sepanjang sungai. Sayang ngga ada kapal umum, harus booking paket wisata dari agen, dan durasi perjalanan bisa seharian penuh.
  • Mini van, naiknya dari terminal bayangan di Victory Monument (dekat BTS), bilang aja “Ayutthaya” (bacanya kayak Ayudya). Van langsung berangkat saat hampir penuh, saya kemarin itu cuma nunggu 15 menit-an. Sekitar 1 jam kemudian, van sampai di tengah-tengah pulau, dan bisa langsung mulai menjelajah.

Saya pilih opsi terakhir, lalu sampai Ayutthaya bisa pilih jalan kaki, sewa sepeda, sewa motor, atau naik tuk-tuk. Jarak antar candi sebenernya ngga begitu jauh, tapi berhubung ada banyakkk banget, jadi ya gempor juga sih. Dan cuaca lagi lucu-lucunya padahal belum jam 9 pagi, jadi saya memutuskan untuk sewa tuk-tuk. Supirnya buka harga 300B/jam, tapi akhirnya bisa ditawar jadi 200B/jam.

Naik tuk-tuk sambil makan eskrim kelapa *nyamnyam*

Naik tuk-tuk sambil makan eskrim kelapa *nyamnyam*

Spot pertama adalah Wat Phra Mahathat (Monastery of the Great Relic), tempat patung kepala Buddha di tengah pohon bodhi yang terkenal. Belum ada cerita yang jelas mengenai asal muasal posisi kepala Buddha tersebut, tapi salah satu teorinya adalah patung tersebut adalah korban perusakan Birma saat menduduki Ayutthaya, yakni dengan memenggal kepala patung-patung Buddha dari badannya. Kepala Buddha tersebut terbengkalai sampai pohon pun tumbuh di atasnya.

Kepala Budha di Wat Mahathat

Kepala Buddha di Wat Mahathat

Selain kepala Buddha ini, banyak obyek menarik di Wat Mahathat, jadi saya cukup lama main-main di sini.

Bekas wihara kecil

Bekas vihara kecil

Pada masa berjayanya Ayutthaya, Wat Mahathat adalah salah satu vihara yang paling penting, baik sebagai pusat ibadat maupun penyimpanan berbagai relikui Buddha.

Rabieng Khot (galeri)

Rabieng Khot (galeri) dengan patung-patung Buddha tanpa kepala

Wat Mahathat dibangun pada akhir abad ke-14. Banyak upacara kerajaan dilaksanakan di sini karena statusnya sebagai vihara kerajaan dan lokasinya yang dekat dengan istana.

Budha yang masih utuh kepalanya

Patung Buddha yang masih utuh kepalanya

Di sebelah Wat Mahathat ada Wat Ratchaburana (Monastery of the Royal Restoration).

Wat Ratchaburana

Wat Ratchaburana

Wat Ratchaburana dibangun di atas area bekas kremasi Chao Ai Phraya dan Chao Yi Phraya yang meninggal setelah duel memperebutkan tahta kerajaan sepeninggal Raja Intharacha (1424M).

Vihara Utama

Vihara utama

Pada akhirnya, adik bungsu mereka Chao Sam Phraya yang naik tahta bergelar Raja Borommaracha II dan membangun Wat Ratchaburana.

Aula pentahbisan (ordination hall)

Aula pentahbisan (ordination hall)

Prang/menara utama mengikuti gaya Khmer, setipe dengan Wat Mahathat karena sama-sama dibangun di awal berdirinya kerajaan Ayutthaya. Di dalam prang ini terdapat ruang bawah tanah yang dulunya menyimpan harta karun, serta dinding dan atapnya dihiasi dengan lukisan.

Prang/menara utama

Prang/menara utama

Selanjutnya saya ke Vihan Mongkhon Bophit tempat patung Phra Mongkhon Bophit (Buddha of the Holy and Supremely Auspicious Reverence) bersemayam.

Viharn Mongkhon Bophit

Vihan Mongkhon Bophit

Patung ini dibuat pada abad ke-16 dari bahan tembaga, dan awalnya diletakkan di dalam bangunan mondop/mandapa/pendopo. Patung dan bangunannya ikut rusak saat invasi Birma, kemudian direstorasi pada tahun 1957 dan patungnya diberi lapisan daun emas pada tahun 1992.

Phra Mongkhon Bophit

Phra Mongkhon Bophit

Dimensi patung tersebut adalah lebar 9.55m, tinggi 12.45m, alasnya 4.5m, jadi total ketinggiannya 16.95m.

Saya lanjutkan cerita tentang Ayutthaya Historical Park di posting berikutnya ya🙂

2 thoughts on “Ayutthaya Historical Park (Thailand) bagian 1

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s