Hot Chocolate di Beukenhof

Makan di Yogya (2)

Bulan lalu, saya beruntung bisa meluangkan waktu liburan bersama beberapa teman dekat ke Yogya, Solo, dan Semarang. Di episode kali ini, saya akan share makan apa saja waktu di Yogya ya? Btw, kalau mau liat postingan saya sebelumnya tentang makanan Yogya, monggo meluncur ke sini.

Perhentian pertama adalah Pasar Beringharjo di Jl. Malioboro. Di depan pasar yang terkenal dengan toko-toko batiknya ini, berjejer kios-kios penjual pecel beserta ubo rampenya yang dijamin menggoda iman.

Penjual pecel depan Pasar Beringharjo

Penjual pecel depan Pasar Beringharjo

Dan tentu saja saya sempatin makan makanan urutan no.1 di list “Yogya’s Must Eat” saya: Sate Legi. Penjual Sate Legi terletak di luar pasar juga, tapi sisi selatan (dekat parkiran). Dulu sih banyak penjualnya, sekarang makin langka.

Sate Legi: gajih dan daging sapi

Sate Legi: gajih  (2,5rb) dan daging sapi (3rb)

Sorenya kami ke Museum Ullen Sentalu (lagi) dan pastinya mampir ke resto Beukenhof. Kami terlanjur jatuh cinta sama hot chocolate-nya, jadi berlima memesan menu yang sama. Ternyata kualitasnya sudah menurun, meski tidak sampai separah minuman cokelat instan.

Hot Chocolate di Beukenhof

Hot Chocolate di Beukenhof (32rb)

Ndak papa, semua terbayar dengan pemandangannya, hahahaha. Beukenhof juga menyediakan aneka makanan, mostly European. Kali ini saya memesan escargot soup (lupa namanya, hahahahaha) yang not bad, ditemani garlic bread yang sedap.

Escargot Soup

Escargot Soup (46rb)

Pulang dari Kaliurang, kami mampir ke kios Jadah Mbah Carik untuk membeli jadah (ketan/uli) dicampur tahu/tempe bacem. Dua-duanya enakkkk.

Jadah & Bacem Mbah Carik

Jadah & Bacem Mbah Carik

Malamnya, saya dan Sisca pergi ke Secret Garden, kafe yang baru buka di dekat Museum Nasional Yogyakarta. Tempatnya baguuus, lokasinya outdoor di taman buatan dengan centerpiece air mancur, serta bangku-bangku kayu. Pemandangan langitnya lepas, selain dihias oleh lampu-lampu menjuntai, kalau beruntung mungkin bisa keliatan bintang berkelip. Sayang makanannya berantakan, baik snack maupun minuman yang kami pesan ngga ada yang berkesan. Murah sih, tapi rasanya biasa banget. Mudah-mudahan sudah ada perbaikan deh.

Secret Garden

Secret Garden

Alamat Secret Garden:
Jl. Prof. Dr. Ki Amri Yahya No. 2, Wirobrajan
(Timur Jogja National Museum)
Telp.: 0274 – 512252

Selanjutnya kami ke Lesehan SBTB (Sebelah Barat Terang Bulan), Jl. Malioboro untuk ngebungkus burung dara goreng. Jam baru menunjukkan pukul 10 malam dan SBTB penuuuh banget, burung daranya juga sudah mau habis, padahal setahu saya mereka baru buka di atas jam 9 malam.

Antrian Lesehan SBTB

Antrian Lesehan SBTB

Berhubung kami belum makan malam, saya dan Sisca memutuskan untuk makan Sego Koyor Bu Parman yang sudah buka sejak tahun 1968. Koyor adalah urat sapi, dan Bu Parman memasaknya dengan kuah seperti kalio. Sayang menurut saya bumbunya kurang berani, jadi ngga bisa mengalahkan rasa “ngendal” dari koyornya.

Sego Koyor Bu Parman

Sego Koyor Bu Parman (11rb)

Keesokan paginya, kami sarapan dengan burung dara goreng SBTB yang tetap juara rasanya (juga harganya, hahahaha)

Burung Dara Goreng SBTB

Burung Dara Goreng SBTB (35rb)

Agenda pagi itu adalah mengunjungi pameran Wacinwa (Wayang Cina Jawa), lalu menuju ke Bantul sesudahnya. Di perjalanan, kami sempatkan mampir dulu makan Rujak Es Krim Pakualaman, di halaman Puro (Istana) Pakualaman. Asam-manis-pedas, seger banget pas cuaca di Yogya lagi panas begitu.

Rujak Es Krim Pakualaman

Rujak Es Krim Pakualaman (4rb)

Siangnya berhubung kami lagi menyusuri pantai-pantai selatan yogya/gunung kidul/bantul, sekalian aja lah makan siang seafood di pinggir Pantai Indrayanti. Highly NOT recommended, harga lebih mahal bahkan dari Bandar Djakarta, seafoodnya pun ngga segar. Sisca sampai kena diare dan ngga sembuh berhari-berhari.

Makan Seafood di Pantai Indrayanti

Seafood di Pantai Indrayanti (200rb)

Hari terakhir di Yogya malam itu ditutup dengan makan di Warung Bu Ageng, yang ngga jauh dari penginapan kami di Prawirotaman. Sesuai tagline-nya, masakan di sini beneran kayak masakan rumah/omah, pake abon, ikan asin, keripik kentang kering, dan semuanya buat saya sih enak.

Nasi Campur Baceman Kambing

Nasi Campur Baceman Kambing (28rb)

Yang juga must try adalah Bubur Duren Mlekoh-nya, dari roti tawar dicampur daging durian yang dihaluskan, santan, dan gula. Bubur disajikan panas, kayaknya klo ada versi dinginnya juga enak deh.

Bubur Duren Mlekoh

Bubur Duren Mlekoh

Saya puas dengan liburan kali ini, karena semua yang ditargetkan terkejar. Yang masih masuk wish list saya untuk trip berikutnya tinggal Nasi Brongkos Handayani & Gudeg Pawon🙂

7 thoughts on “Makan di Yogya (2)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s