Ubud Writers and Readers Festival 2012

Ubud Writers & Readers Festival 2012

Awalnya seperti biasa, saya dapet tiket murah dari AA, CGK – DPS pergi-pulang 200rb saja. Di saat-saat terakhir ternyata partner traveling batal berangkat karena tanggal segitu ngga bisa ambil cuti *bete*. Mulailah saya merombak itinerary supaya cukup fun untuk dilakukan sendirian. Beruntung, ternyata di tanggal-tanggal segitu ada Ubud Writers and Readers Festival (UWRF).

Saya bukan penulis, ngeblog juga jarang-jarang, tapi lumayan suka baca. Kayaknya seru juga deh ikut diskusi sama penulis dan sastrawan, pikir saya. Biayanya juga cukup terjangkau, 100rb-an untuk seharian penuh mengikuti seluruh sesi diskusi yg ada. Berhubung lokasi program UWRF ini mengambil beberapa lokasi di Ubud, saya coba ngincer beberapa program yang lokasinya deketan, within walking distance deh.

Pengennya ikut program Tongue Teaser yang ada Bondan Winarno-nya, lalu lanjut Lost Souls and Running Dogs. Sayangnya, karena miskomunikasi sama supir mobil sewaan, saya baru dijemput menjelang makan siang. Buru-buru bergegas ke Ubud, untungnya masih dapet sesi Grinderman dengan Nick Cave, mantan rocker yang alih profesi jadi penulis skenario film. Beliau sukses melalui film The Proposition, namun gagal total saat menulis sequel Gladiator (bahkan scriptnya dibuang ke tong sampah oleh produser, hehehe). Orangnya lucu dan cuek ala rocker, jadi seluruh sesi diskusi mengalir segar. Yang saya dapat di situ adalah, jangan takut untuk mencoba hal baru. You’ll never know, bisa jadi it’s good for you🙂

Habis makan siang Nasi Ayam Kedewatan Mardika (review menyusul), saya ikut program Say It Out Loud. Penulis (or should I say seniman?) yang jadi narasumbernya bagus-bagus deh. Saya berdecak kagum saat Krishna Pabichara membacakan puisinya yang dicampur dengan lagu tradisional Bali,

Tak seperti perindu lainnya, aku takkan mencarimu.
Karena kamu sudah di hatiku, tempat yang sarat hanya olehmu.

Saya juga menahan tangis waktu Luka Lesson “menyanyikan” The Confluence

We met at the confluence
where my air in your lungs
spoke my words with your tongue
where my hair curled down your face
touched my lips but carried your taste

Two thumbs up!🙂

Terakhir, saya ikut program di resto Indus dengan judul Fifty Shades of Controversy. Yak benar, ini ngebahas fenomena buku 50 Shades of Grey. Lagi-lagi saya ngga berenti-berenti ketawa, apalagi pas bagian 2 panelis (bapak-bapak) membacakan random page dari 50 Shades, yang “kebetulan” pas adegan Grey merayu Steele. Dialog Grey diucapkan dengan suara berat dan sultry, sementara bagian Steele dilafalkan dengan gaya centil, hahaha. Nyaris semuanya sepakat bahwa 50 Shades ditulis dengan buruk (setuju banget, kalimatnya diulang-ulang dan membosankan), namun menuai sukses karena tema yang cukup unik (meski bukan yang pertama mengusung ini), serta kekuatan media sosial dan word of mouth. Mungkin bisa dilihat dalam 5 – 10 tahun lagi, apakah masih ada orang yang mengingat buku yang masuk di New York Times bestseller list ini?

Hari itu saya pulang dengan hati luar biasa senang. Serius, lupa lho klo seharian saya pergi sendirian, hehehehe. Buat saya, UWRF ini salah satu yang must come klo ada waktu dan kesempatan. Ngga usah mikir yang terlalu berat atau kaku, hanya menjadi pembaca aja bisa ikut nikmatin acara ini kok🙂

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s