Rafflesia arnoldi

Bukittinggi (bagian 1)

Tepat 1 jam perjalanan dari Puncak Lawang, kami masuk ke kota Bukittinggi. Jam sudah menunjukkan hampir jam 5, sementara makan berat kami terakhir adalah sebelum jam 10 di Sate Mak Syukur. Okeh banyak ngemil sih, mulai dari keripik tahu, oishi taro, keripik getuk, sampe Bika Si Mariana, tapi tetep naga di perut protes lah. Akhirnya saya langsung minta Uda Derry meluncur ke Taman Panorama, lalu lanjut berjalan kaki ke warung Pical Sikai.

Ngarai Sianok

Ngarai Sianok

Taman Panorama adalah salah satu tempat terbaik melihat Ngarai Sianok. Seperti taman lainnya, tempatnya asri, banyak tanaman ijo-ijo plus bonus monyet-monyet yang ngga begitu ganas tapi ngga pemalu juga. Di bawah Taman Panorama ada Gua Jepang yang sudah direnovasi jadi nyaman dimasuki pengunjung, cuma agak capek turun-naik tangganya aja. Menurut informasi, di kota Bukittinggi sendiri, jalur gua-gua buatan Jepang menggurita di bawah tanah, makanya pemerintah melarang pendirian bangunan yang lebih dari 3 lantai, karena takut akan runtuh.

Saya sengaja atur supaya nyampe Taman Panorama menjelang sunset, karna dulu pernah ke sana dan sunsetnya bagus. Sore itu suasana taman cukup sepi, padahal hari sabtu. Tapi melihat banyaknya sampah berserakan di area taman, saya bisa simpulkan bahwa siangnya pasti rame sekali. Setelah puas foto-foto di sisi yang banyak hijaunya, kami pindah ke sisi lain yang ada menara untuk melihat matahari terbenam. Sayangnya, sunsetnya kurang bagus, dan kami terlalu capek buat masuk ke Gua Jepang, jadi kami memutuskan untuk check in ke Hello Guest House. Malamnya cuma keluar untuk makan di resto Family Benteng, lalu langsung istirahat setelah mengalami hari yang panjang.

Besok paginya jam 6an, semua mata sudah terang-benderang, hahahaha. Wildan duduk-duduk sambil ngopi di teras GH, sementara cewek-cewek pada mandi. Sebelum jam 8 kami sudah di bawah Jam Gadang, en route menuju Nasi Kapau Uni Lis. Jam Gadang jam segitu masih sepi, lapangan cuma dipenuhi ibu-ibu yang sedang senam pagi.

Jam Gadang

Jam Gadang

Dari kota Bukittinggi kami bergerak ke utara, dan ngga sampai 30 menit kemudian sampai di Cagar Alam Batang Palupuh. Di sini terdapat 3 area tempat bunga Rafflesia arnoldi tumbuh, masing-masing bisa ditempuh antara 30 menit sampai 2 jam trekking di dalam hutan. Rafflesia berbeda dengan bunga bangkai (Amorphophallus titanum) karena bentuknya yang seperti bunga raksasa dan tidak berbau. Menurut guide kami Uda Jony, Rafflesia tumbuh 1.5 tahun untuk kemudian mekar selama 7 hari, kemudian mati. Rafflesia yang masih kuncup bentuknya bulat coklat kayak bola sepak takraw. Bunga yang kami datangi ini sudah masuk hari keenam, jadi sebagian sudah ditumbuhi jamur. Masih untung deh, soalnya besoknya sudah almarhum, hahahaha.

Rafflesia arnoldi

Rafflesia arnoldi

Kebetulan yang mekar ini di lokasi yang dekat, ngga sampai 30 menit trekking. Tapi rutenyaaa, ada beberapa area yang kemiringan tanahnya lebih dari 45 derajat, dan berhubung itu di dalam hutan, ngga banyak turis yang tau/lewat, jadi licin banget. Untung beberapa hari itu ngga hujan, jadi jalanan cuma sedikit becek. Saya ngga kebayang gimana parahnya klo habis hujan. Yang punya sandal gunung, wajib dipake ya. Saya pake crocs dan musti pelan-pelan banget jalannya (plus ngesot), ngga berani lepas sendal juga soalnya banyak lintah/pacet. Tapi bener-bener worth the trip deh pas liat mekarnya si Rafflesia. Oh iya, Uda Jony ini ke kami ngenain tarif 35rb per orang. Entah ya mungkin bisa ditawar.

Cagar Alam Rafflesia

Ini ngga begitu curam

Udahannya kami ga bisa keluar karena jalanan ditutup, ada acara syukuran Khatam Al-Quran. Jadi anak-anak yang sudah menyelesaikan membaca seluruh isi Al-Quran dikumpulkan, didandani cantik/ganteng, lalu berbaris diikuti grup drum band, bapak-bapak berpakaian rapi, serta ibu-ibu membawa junjungan berisi makanan. Seru deh lihatnya.

Perayaan Khatam Al-Quran

Perayaan Khatam Al-Quran

Ternyata waktu menunggu ini membawa berkah lain, Buncis yang kebelet pipis akhirnya numpang pipis di “kantor” Rafflesia Luwak Coffee (RLC). RLC ini produsen kopi luwak organik, alias biji kopinya dikumpulkan di hutan, hasil pemrosesan sistem pencernaan luwak liar. Kami disambut oleh Uni Umul, yang kemudian mempresentasikan proses dibuatnya kopi luwak. Selain kami berlima, ada juga 2 orang turis dari Jerman ikut bergabung. Bahasa Inggris Uni Umul cukup bagus, jadi saya sarankan presentasinya pake Bahasa Inggris aja biar beliau ngga perlu kerja 2x hahahaha.

Hasil sekresi luwak

Hasil sekresi luwak, bahan kopi luwak

Harga secangkir kopi luwak di sini cuma 20rb, sementara biji & bubuk kopi dijual per 100g seharga 200rb (bisa untuk sampai 20 cangkir kopi). Saya ikut ngicipin dan rasanya kayak kopi encer, hehehe. Ngga ada aroma kopi yang wangi, tapi diminumnya smooth sih, ngga pahit meski tanpa gula, dengan aftertaste jejak kopi baru terasa di bawah tenggorokan. Saya ngga bisa minum kopi, bahkan frappuccino kopi cap duyung yang berbasis kopi aja bisa bikin saya mual seharian. Tapi minum setengah cangkir kopi luwak sama sekali ngga bikin pencernaan protes, sesuai sama klaimnya. Yang lucu, Uni Umul juga menyebutkan khasiat kopi sebagai scrub untuk menghaluskan kulit. Tabs yang praktek di tempat langsung dihujani tatapan heran dari turis-turis Jerman, hahahaha.

Photo set Bukittinggi bagian 1
https://www.flickr.com/photos/41912023@N07/sets/72157633970066084/

Photo set Bukittinggi (kunjungan pertama saya, thn 2008)
https://www.flickr.com/photos/41912023@N07/sets/72157634294120957/

Sebagian info saya ambil dari The Aroengbinang Travelog

Taman Panorama Bukittinggi
Jalan Panorama Bukittinggi Sumatera Barat
GPS: -0.30804, 100.36581

Cagar Alam Batang Palupuh
Desa Batang Palupuh Kec. Palupuh,
Kabupaten Agam, Sumatera Barat
Jony: 081374360439

Rafflesia Luwak Coffee
Desa Batang Palupuh Kec. Palupuh,
Kabupaten Agam, Sumatera Barat
Tel: 0752 – 7000749 / +6281374178971 / +6281933538136
Email: umulross@yahoo.com
http://www.rafflesialuwakcoffee.org

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s