PDIKM

Padang Panjang

Pesawat Saya, Buncis, Tabs, dan Wildan mendarat tepat jam 7:10 pagi di Minangkabau International Airport (MIA), dan 10 menit kemudian kami menghirup udara pagi tanah Minang. Uda Derry pun siap menjemput beserta mobil yang kami sewa. Sambil menunggu kedatangan Lilies yang sudah sampai di Padang sehari sebelumnya, kami menikmati cantiknya Bukit Barisan dari lapangan parkir.

Bukit Barisan

Bukit Barisan

Sebelum jam 8 kami bergerak ke luar dari bandara menuju Lembah Anai. Untungnya lalin hari sabtu itu cukup lancar, meskipun masih dalam musim libur anak sekolah. Menurut GPS, jarak dari MIA ke Lembah Anai lebih dari 50km, dan sekitar 1 jam kemudian kami pun sampai. Air Terjun Lembah Anai ini posisinya di pinggir Jalan Raya Padang – Bukittinggi, ngga akan kelewatan deh. Setelah membayar HTM sebesar 3rb, kami bisa menikmati cipratan air terjun yang dingin dan segar.

Air Terjun Lembah Anai

Air Terjun Lembah Anai

Puas main air dan foto-foto, kami lanjut menuju Sate Mak Syukur. Perjalanannya ngga jauh, ngga sampai 30 menit. Kami sampai Mak Syukur jam 9:30an dan resto sudah buka *jogedpisang*. Cerita makan-makannya nanti saya bikin posting terpisah ya. Mak Syukur ini dekat sama Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM).

Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau

PDIKM

PDIKM ini berbentuk rumah gadang di tengah taman yang luaaas, seger deh liatnya. Tiketnya cuma 4rb dan sebelum masuk museum, pengunjung harus melepas alas kaki terlebih dahulu. Saya suka deh, jadi setiap sudut ruangan terjaga kebersihannya. Di dalam kita bisa melihat koleksi foto, tulisan, dan barang-barang mengenai alam dan budaya Minangkabau yang kaya. Puas berkeliling, ibu penjaga museum berujar ramah, “Di bawah ada pelaminan minang kalau mau lihat.” Dan kami ngga melewatkan kesempatan memakai baju pengantin (berlapis-lapis, gerahhh), suntiang (replika, jadi ngga berat), dengan cukup menyewa seharga 25rb.

Baju Pengantin Minang

Baju Pengantin Minang

Jam 11an kami meninggalkan PDIKM dan lanjut ke arah Pandai Sikek. Sebelum sampai sana, wajib banget mampir dulu ke Bika Si Mariana, sambil lihat cara pembuatannya yang masih tradisional. Pandai Sikek cuma 30 menit-an dari PDIKM, dan saya pikir itu semacam desa tenun gitu. Tapi setelah nyusurin jalan, ketemunya cuma toko-toko yang jual kain tenun dan suvenir, ngga ketemu penenunnya😦

Rumah Tenun Pusako

Rumah Tenun Pusako

Tapi tetep ngga nyesel kok ke sana, karena desanya cantik dan asri. Klo sempat mampir, coba blusukan ke belakang-belakang, jadi bisa liat sawah dan lembah dengan pemandangan Gunung Singgalang (klo ngga salah). Kami juga mampir ke beberapa toko di sana, salah satunya Rumah Tenun Pusako yang cakep banget. Oh iya, klo nanya harga kain di sini jangan syok ya, soalnya rata-rata harganya 2jt ke atas. Ini ada beberapa yang menurut saya cantik banget, harganya yang marun emas-biru-hijau masing-masing 7jt, 4.5jt, dan 2.5jt *pinksun*

Kain Tenun Pandai Sikek

Kain Tenun Pandai Sikek

Menurut Ling, owner hostel tempat kami menginap di Bukittinggi, tenunan Pandai Sikek memang mahal, sebanding dengan kualitasnya. Ling sendiri recommend toko Satu Karya, dia kenal sama ownernya jadi mungkin bisa dapat harga bagus. Sayang kami taunya telat, hehehe. Puas liat-liat dan istirahat di masjid H. Miskin (serius ini namanya) Pandai Sikek, jam 1an kami lanjut ke Danau Maninjau. Ada sedikit miskomunikasi sama Uda Derry, saya tulis di itinerary maunya ke Puncak Lawang, tapi Uda pikir kami mau ke pinggir danau, jadi dia arahkan mobil melewati Kelok 44. Sampai Kelok 16 (Kelok 1 yang paling dekat sama pinggir danau) baru sadar klo salah tujuan, jadi kami puter balik menuju Puncak Lawang. Dari Pandai Sikek ke Danau Maninjau sekitar 1 jam, tapi karna kami re-route jadi baru sampe Puncak Lawang jam 3an. Di sana kami ditarik retribusi 5rb per orang + 5rb untuk mobil. Agak kesal sih karena ngga ada tiket resmi, tapi kekesalan terhapuskan pas lihat pemandangannya.

Puncak Lawang

Danau Maninjau

Puncak Lawang ini salah satu tempat terbaik melihat pemandangan Danau Maninjau. Puncak ini juga biasa digunakan untuk olahraga paralayang, karena posisinya yang sangat tinggi. Tapi jangan takut panas, karena lokasinya cukup asri, selain banyak pepohonan juga ada gazebo besar dan bangku-bangku tempat orang bisa berteduh sambil memandangi danau.

Photo set Padang Panjang
https://www.flickr.com/photos/41912023@N07/sets/72157633969955176/

Photo set Lembah Anai (kunjungan pertama saya, thn 2008)
https://www.flickr.com/photos/41912023@N07/sets/72157634293985659/

Photo set Danau Maninjau (kunjungan pertama saya, thn 2008)
https://www.flickr.com/photos/41912023@N07/sets/72157634299045792/

 

Info-info ini saya ambil dari The Aroengbinang Travelog

Air Terjun Lembah Anai
Lembah Anai, Kecamatan Sepuluh Koto
Tanah Datar, Sumatera Barat
GPS: -0.483661,100.338440

Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau
Kelurahan Silaing Bawah, Kecamatan Padang Panjang Barat
Padangpanjang, Sumatera Barat
GPS: -0.470120, 100.379040

Rumah Tenun Pusako
Pandai Sikek, Padangpanjang
Sumatera Barat
GPS: -0.40389, 100.39494

Puncak Lawang
Kecamatan Matur, Kabupaten Agam
Sumatera Barat
GPS: -0.264358, 100.242562

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s