Lumpur Lapindo

Mudik! – Day 5

Lumpur Lapindo

Lumpur Lapindo

Kamis pagi, sesudah ngantri mandi, kami siap-siap buat sarapan. Kali ini menunya sate kambing, ikan goreng, peyek udang, lalapan, dan urap kupang. Urap kupang ini yang unik, klo urap biasa pake kelapa, maka urap kupang make kupang sebagai pengganti kelapa. Rasanya pun mirip urap, asin-pedas (sangat pedaaas), dengan aroma salty-seafoody yang ngga bisa ditemuin klo makan urap biasa.

Jam 9 kami bergerak ke arah Tanggulangin, daerah yang udah terkenal sebagai pusat industri tas dan koper. Dari rumah Mas Tofik juga ngga jauh, ngga sampai 30 menit. Saya masuk ke showroom Intako yang gede dan isinya penuh sama tas, sepatu, gesper, dompet, alamaaak berasa heaven on earth :D Mana harganya affordable banget. Saya sekeluarga keluar dari situ bawa 9 tas, 1 dompet, dan 1 gesper. Overall verdict: PUASZZZ!!!

Pulangnya kami mampir di warung kupang lontong pinggir jalan. Hekekeke, jaman kuliah dulu, sahabat saya Wisnu, orang Sidoarjo yang sekarang tinggal di Blande pernah cerita bahwa cara memanen kupang rada aneh. Penjual Kupang bikin umpan dari *sorry* feses (human?), trus nanti kupangnya akan ngumpul di situ. Klo kupang yang ngumpul udah banyak, tinggal dibersihin dan siap dikonsumsi. Sejak Wisnu cerita gitu, saya geuleuh aja dan berjanji ngga akan mau makan kupang.

Aaanyway, itu kan cerita lalu, jaman saya masih polos nan lugu dan tanduk di kepala saya masih pendek-pendek  8-)  Tujuh taun kemudian, saat saya di-dare untuk makan kupang lontong, ya ngga mikir 2x, langsung say yes aja. Kenapa disebut kupang lontong? Karna kupangnya jauuuh lebih banyak daripada lontongnya. Tekstur kupang agak mirip kacang ijo yang direbus, tapi rasanya asin dan amis, yaaa salty-seafoody kayak yang tadi saya sebut. Lebih sedep klo dibumbu pedas, pake petis yang okeh, trus dikasih remahan singkong parut goreng buat nambah tekstur crunchy. Overall tastenya seger kayak makan sop ikan. Ngga die die must try sih, tapi worth to try dan saya pasti akan makan kupang lontong lagi next time klo ada kesempatan.

Untuk balik ke desa Jemirahan, kami musti ngelewatin rel kereta dan tanggul gede untuk menahan lumpur. Rombongan pun parkir trus nyeberang rel untuk naik ke atas tanggul. OK, saya tau saya seharusnya berusaha mencegah, or at least ngga ikut-ikutan nonton, tapi rasa sungkan sama keluarga dekat masih ngalahin rasio saya. Di atas tanggul bisa keliatan atap-atap rumah yang kerendem lumpur, juga beberapa pabrik yang cuma keliatan ujung tanki / vesselnya aja. Di sisi lain juga ada pusat semburan yang masih ngeluarin asap, tapi kami ngga mendekat.

Sepanjang jalan pulang, saya liat banyak spanduk-spanduk yang minta lumpur dibuang ke sungai, instead of drowning more villages. Yang paling saya ingat adalah kecaman terhadap Walhi (yang menolak pembuangan lumpur ke sungai Porong) yang bunyinya kurang lebih “Lebih baik ikan yang mati daripada kami yang mati”, or something like that.

Istirahat sebentar di rumah, kami udah diajak makan lagi. Doooh, pantesan Mbak Susi betah di sini, bentar-bentar makan, mana makanannya enak-enak pula🙂 Hidangan siang itu serba kambing, mulai dari gule, semur, sate, tapi tentu saja ada ikan goreng dan bakwan jagung sebagai pelengkap. Saya masih kenyang, jadi cuma makan gule dan sate, tanpa nasi. Hekekeke, kenyang apa doyaaan…

Menjelang jam 4 sore rombongan kami berangkat ninggalin Porong menuju Magetan. Jadi ada tiga keluarga kakak-beradik: keluarga Ibu (termasuk saya), keluarga Mbak Sun, dan keluarga Mbak Susi. Di daerah Jiwan (kab. Madiun) kami mampir sebentar untuk nyobain Soto Obor yang kondang banget. Ada beberapa penjual Soto Obor, tapi yang paling rame yang paling ujung ke arah Maospati, judulnya Soto Obor Barokah.

Soto Obor ini ternyata semacam soto ayam, dengan irisan daging ayam yang agak besar, bukan disuwir-suwir. Pelengkapnya sate daging ayam juga, tapi entah gimana cara motongnya jadi bentuknya gede-gede kayak daging sapi. Klo kata saya mah biasa aja, nothing special, sama sekali ngga die die must try. Sampai di Magetan udah hampir jam 10, jadi saya milih untuk langsung bobo.

INTAKO
Jl. Utama No. 27 Kedensari
Tanggulangin, Sidoarjo
telp. (031) 885 1887

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s