Tahu Petis Madiun

Mudik! – Day 1

Tahu Petis Madiun

Tahu Petis

Hari minggu jam 3 pagi saya dibangunin ibu untuk sahur. Menunya tentu saja nasi pecel. Sambel pecel bikinan Mbah Ti punya kadar kepedesan yang lebih tinggi dibanding bikinan ibu. Tapi klo soal kesedapan, KKSM (Klo Kata Saya Mah – *Ceretch mode ON*) sambel ibu sedikit lebih wokeh.

Jam 6.30 saya bangun (jarang-jarang tuh jam segitu dah bangun *-) ), dan ternyata semua orang udah mandi *doooh, pada bangun jam berapa seeeh?*. Pada hari kesekian, saya baru tau klo jam 5 pagi di Magetan tuh terangnya sama kayak jam 6 di Jakarta, sementara jam 6 sore tuh segelap jam 7 malam-nya Jakarta. No wonder orang sana pada early risers (and early sleepers) semua😉

Agenda kami hari itu adalah belanja untuk persiapan lebaran. Mblusak-mblusuk pasar lama, nyari wortel, buncis, jepan (labu siam), termasuk ke kios daging juga. Beda sama waktu kecil dulu, saya udah jarang ngeliat penjual sarang lebah di pasar magetan. Sampai sekarang, saya masih ngga ngerti buat apa orang beli sarang lebah, kata ibu sih bisa disayur

Di bagian belakang pasar, kami nemu tukang ayam. Puluhan ayam idup diiket sepasang-sepasang sambil menunggu nasib. Ibu milih sepasang yang ukurannya sedang dan minta sekalian dibersihin. Pak tukang ayam dengan sigapnya menyembelih, ngerendem si ayam dalam air mendidih bentar, trus langsung nyabutin bulu-bulunya sampai bersiiih banget. Saya bisa kok nyabutin bulu ayam sendiri, tapi not on the same rate of speed, of course. Klo Pak tukang ayam bisa nyelesain 1 ayam dalam 5 menit, saya dalam waktu 50 menit😀

Waktu jalan ke parkiran, saya liat ada yang lucu-lucu. “Apaan tuh Bu?”, saya nanya ke ibu. Kata ibu, makanan yang saya tunjuk tuh namanya ikan wader, sambil ngasih 2000 perak ke mbok yang jual & minta dibungkus. Oh iya, di pasar Magetan ini saya blom liat kuli panggul laki-laki. Semuanya perempuan dan sebagian besar keliatannya dah setua nenek saya, wow!

Malamnya habis buka, saya sekeluarga berangkat ke Madiun. Jarak Magetan – Madiun ngga nyampe 30km, jadi cuma butuh 30 menit-an nyetir (ngga kok, bukan saya yang nyetir). Di rumah Mas Yanto (adek Bos), sudah menunggu sebuah nampan dorong (kayak yang di hotel / rumah sakit) penuh berisi toples-toples camilan khas lebaran *waaah, Mbak Rita (istri Mas Yanto) baik syekaliii*

Malemnya, kayak biasa kami begadang plus ngobrol-ngobrol. Menjelang jam 10, saya perhatiin adek saya, Dek Andy dan sepupu saya Yudha tiba-tiba menghilang. Setengah jam kemudian mereka dateng bawa sebungkus martabak telor dan tahu petiiis! Tahu petis ini must eat food klo saya lagi ke Madiun. Too bad saya blom nemu tukang tahu petis yang tahunya endang bambang kayak tahu yang banyak dijual di Jakarta. Untung aja sambel petisnya blom pernah mengecewakan, jadi saya tetep nyari makanan ini tiap mudik. Perut kenyang, hati senang, time to sleep…

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s