Ayam Goreng Panas Mbok Berek Ny. Wiwid

Mudik! – The Journey

Ayam Goreng Panas Mbok Berek Ny. Wiwid

Ayam Mbok Berek

Jumat sore jam 6, saya yang baru pulang ngantor buru-buru nyemplung ke kamar mandi. Mas Tofik janji akan jemput kami jam 6 dan buka puasa di jalan, jadi ibu bela-belain ngga masak. Kami cuma buka pake es kelapa dan gorengan, sambil H2C nunggu talipun dari beliau.

Jam 7an baru Mas telpon, katanya rombongan mudik akan jalan dari Kelapa Dua sekitar jam 7.30. Halaaah, kenapa ngga bilang dari awal gituh, jadi kami ngga keleleran menahan lapar, hekekeke. Ibu langsung ngasih instruksi ke asisten di rumah untuk beli 5 bungkus (satu buat asisten) ketoprak spesial.

Jam 8 kami beneran berangkat, duet Krista: 1 ngangkut 2 keluarga brimob + Mas Tofik sebagai supir, 1 ngangkut keluarga saya yang superjumbo + temennya Mas sebagai supir. Perut kenyang sesudah mam ketoprak, kami mulai perjalanan dengan hati riang.

Jarak Jakarta – Magetan yang 750-an km harusnya bisa ditempuh dalam waktu 12 – 14 jam. Tapi kenyataan berbicara lain *halaaah*. Jam 8 pagi (12 jam kemudian) kami lagi enak-enaknya sarapan nasi rames + ayam goreng keremes di Ayam Goreng Panas Mbok Berek Ny. Wiwid di pinggiran Brebes. Isinya nasi putih, orak-arik tempe, sayur krecek, sambal & ayam goreng. Ayamnya gurih pisan, kerasa jejak santan di setiap gigitannya. Too bad tulangnya ngga dipresto (hehehehe) sekalian. Lauk lainnya cenderung manis (bahkan sambelnya pun ketularan manis) dan sebagian nasinya mengering, jadi mengurangi nikmatnya bersantap. Kerusakan per porsinya cuma 14,000πŸ˜€

Sesudah makan, kami masuk Brebes kota, dan ngeliat jajaran penjual telor asin. Saya buru2 buka milis JS, dan nemuin bahwa recommended brand-nya ada 2: Lina Pandi & Tjoa.

Di wilayah Batang dekat Alas Roban, ada pemandangan aneh. Sekian puluh pengemis berderet di pinggir jalan, masing-masing cuma berjarak 5 meter with each other. Semua dengan pose yang sama, ekspresi wajah yang sama, baju rombeng yang sama (mungkin 1 penjahit? :p), dan asesoris yang sama. Laki-laki, perempuan, tua, muda, dan anak-anak. Ngga ngerti maksudnya apa, apa kita boleh milih pengemis mana yang keliatan paling cakep/jelek/memelas/cacat untuk dikasih sedekah? I hate commercialized poverty, apalagi yang melibatkan anak-anak😑

Habis itu kami masuk Pekalongan, dan ngelewatin hamparan toko batik. Sabaaar, sabaaar, ngga sekaraaang, pikir saya dalam hati, saya janji akan mampir ke sini dalam perjalanan pulang nanti. Di ujung kota saya ngeliat plang yang nunjukin arah ke Kepiting Prima Comal yang ngetop Kepiting Gemes-nya. If only saya bawa mobil sendiri, saya pasti udah ampirin tuh restoπŸ˜‰

Next kami masuk Semarang, dan langsung bablas via jalan tolnya. Keluar di Ungaran, kami ngelewatin toko roti Pauline cabang dari Ambarawa. Beberapa thread di JS pernah ngereview nikmatnya roti-roti resep jadoel khas bakeri ini. Salah satu episod di Bango Cita Rasa Nusantara bahkan sempat menayangkan cara membuat Roti Kelapa a la Pauline. Saya juga ngeliat beberapa warung sate Pak Kempleng (each one pake embel-embel nomer atau nama orang “Sate Pak Kempleng Ny.anu”, dsb). Kami juga ngelewatin Kampoeng Kopi Banaran yang kiyatan gersaaang banget.

Sampai Boyolali saya buru-buru nge-SMS Agus, sahabat saya yang asli Boyolali. Saya baru tau klo di Boyolali banyak penjual abon sapi ^_^ Habis itu ambil jalur Solo, Ngawi dan jam 6 sore kami masuk kabupaten Magetan.

Selepas ngebales SMS Agus yang ngingetin untuk buka puasa, saya mulai ngeliat familiar spots yang blom berubah sejak setaun yang lalu. Sungai kecil yang ngiringin perjalanan kami, hamparan pohon mangga, jeruk bali, dan akasia yang memayungi halaman-halaman rumah, juga ladang-ladang jagung & tebu di sela-selanya. Baru kerasa how much I missed those sights.

Rumah Mbah adanya di bagian kota, jadi kami ngga punya sawah, ladang, kebon, dan sebangsanya. Cuma pohon mangga manalagi yang masih berdiri di halaman, ngingetin saya akan almarhum Mbah Kakung yang meninggal sekian tahun lalu. Sampai di teras, kami langsung disambut oleh Mbah putri & keluarga Mbak Sundari (adik ibu) yang memang tinggal di sana dan Mas Gud (adik ibu juga) yang tinggal tetanggaan sama Mbah.

Reaksi pertama Mas Gun (suami Mbak Sun) waktu ketemu saya adalah: “Lho Din, calonmu mana? Kok ngga diajak?” Shoot! Should’ve seen it coming😎

2 thoughts on “Mudik! – The Journey

  1. Adhiwardhana Widjajanto says:

    Enak ya, mudik disetirin, jadi bisa blogging. Perjalanan mudik saya 50% persis punya kamu, cuman saya dari Semarang trus “turun” ke Salatiga. Jakarta – Salatiga: 20 jam. Pulangnya “balas dendam” cuman 7 setengah jam…πŸ˜€

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s