Pecel Magetan

Pecel Madiun (Magetan)

Pecel Magetan

Nasi Pecel

KTP saya mencantumkan “Magetan” dengan jelas sebagai kota kelahiran saya. Ini pula yang sering kali menjadi awal obrolan yang mengasyikkan dengan petugas penitipan KTP pada saat saya bertandang ke kantor orang, mungkin karena bapak2 yang budiman tersebut jarang2 ketemu orang dari belahan bumi bagian sana🙂

Buat rekan2 yang ngga tau, Magetan adalah kota kecil di kaki gunung Lawu, sekitar 30 menit perjalanan dari Madiun. Salah satu obyek wisata yang terkenal di sana adalah telaga Sarangan, meski akhir2 ini daerah Magetan-Madiun-Maospati sedang ramai diberitakan mengenai tawuran antar perguruan silat. Ibu saya kebetulan orang Magetan, sedangkan ayah orang Madiun, jadi saya hampir ngga punya darah blasteran :p

Setiap kami bertandang ke Magetan (yah, dengan sedihnya saya terpaksa mengaku bahwa saya cuma numpang lahir di sana), menu sarapan kami selalu sama: nasi pecel. Nasinya pulen dan hangat, ditaruh di atas pincuk daun pisang, dengan sayuran lengkap, sambel kacang, lauk goreng, dan lempeng (bacanya seperti “lempeng Eurasia”, bukan lempeng=lurus). Sayuran rebusnya antara lain: bayam, kangkung, kembang turi, lamtoro (petai cina), krokot (tanaman berwarna merah kehitaman, berdaun kecil2, sering tumbuh di pinggir jalan, biasa jadi makanan ayam :p), dan capar (toge kedelai), disiram
sambel kacang yang very generous. Sebagai pelengkap, biasanya disediakan juga tempe goreng (tempe mentahnya berukuran kecil2 dan dibungkus daun pisang. dilumuri cairan tepung sedikit, baru digoreng), bakpia (bakwan), dan lentho. Lentho adalah campuran singkong, tempe busuk (tempe model sama dengan yg di atas), lengkuas, dan bumbu-bumbu lain yang diparut kasar, kemudian dibentuk bola-bola seukuran lebih kecil dari bola pingpong. Rasanya gurih-pedas dengan aroma yang menyengat, cocok juga untuk camilan.
Lempeng sendiri dibuat dari nasi, dicampur dengan bleng (zat kimia tertentu, saya kurang paham) supaya lengket dan padat, lalu dijemur sampai kering. Saya pernah beli lempeng mentah dalam kemasan dan tertulis namanya “Kerupuk Puli”.

Selain “perlengkapan standar” di atas, mbok2 penjual pecel juga biasanya menyediakan pindang dan bothok. Pindang adalah mie rebus dengan kuah santan kekuningan. Bumbunya very light, cocok utk sarapan anak2 yang belum kuat makan pecel mainstream. Bothok adalah campuran kelapa parut, daun so (daun melinjo), ikan teri, cabai hijau dan tempe, dimasak dengan santan dan bumbu2, lalu dibungkus daun pisang. Pada warung2 pecel yang lebih lengkap, juga disediakan daging & jeroan goreng seperti babat, paru, empal, serta ati ayam.

Untuk camilan, saya paling suka usus ayam (kolesterrrrooool…) yang bisa dibeli seharga 500rp per kemasan kecil. Selain usus goreng, camilan lain yang saya suka adalah kembang gulo (terbuat dari daging kelapa yang dikeringkan, diberi pewarna merah, dan bentuknya disusun seperti kelopak bunga), wajik (beras ketan dicampur santan & gula merah, dicetak di atas tampah, lalu dipotong kecil2), serta nasi ketan yang diberi taburan bubuk kedelai goreng.

Madiun sendiri lebih “kota” daripada Magetan, tapi tarikan masakannya kurang lebih sama. Oleh-oleh khas Madiun adalah -tentu saja- brem, hasil fermentasi beras ketan yang dipadatkan seperti coklat batangan. Saya kurang suka brem, jadi hanya beli untuk oleh-oleh saja.

Alhamdulillaah, ibu saya lumayan jago dan senang memasak masakan tersebut di atas. Makanya, saya cuma senyam-senyum aja waktu baca posting2an tentang sandwich pecel, wong saya ndino-ndino panganane kuwi, nganti waleh (sehari-hari makanannya itu, sampai bosan). Pernah suatu kali, teman saya yang istrinya lagi ngidam, menitip beli bumbu pecel Madiun untuk dibawakan jika ada sodara saya dari sana yang bertandang ke Jakarta. Beliau wanti-wanti-wanti-wanti (pokoknya wanti-wanti banget deh) supaya yang asli dari Madiun, soalnya sang istri rada susah makan, dan bisa ngebedain antara
yang asli dan enggak (biasa, bawaan orang hamil). Saya luluskan permintaannya, dan membawakan sebungkus bumbu pecel khusus untuk calon ibu tersebut. Keesokan harinya, dia cerita dengan berseri-seri, klo istrinya makannya buanyak banget, dan dia pengen pesen lagi, in case yang itu habis. Saya ketawa aja, trus bilang: “Itu bikinan nyokap gw, elo mau minta berapa aja, hayu dah. Di rumah juga banyak :D”

3 thoughts on “Pecel Madiun (Magetan)

  1. Dipo Prasetyo says:

    Wah, aku jg kebetulan sering mampir ke sana! Jd pengen ke sana lg, makan pecel sms lalapan… trus pake botok teri ato pepes pindang… makin klop pake kriuk2 kerupuk puli… buyutku dulu org madiun, pas rusuh2 jarahan mrk pindah ke ponorogo… dan gw sering ikut tante gw nilikin mrk trus makan murah meriah di magetan… Xixixixi… jurnalnya bagus nih…

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s