Teh, tea, cha?

Buat saya, jalan-jalan ngga afdol deh kalau ngga dibarengi makan-makan (enak). Saya juga lebih suka makan makanan lokal di kedai daripada makan di resto. Selain lebih murah, kayaknya sayang kalau jauh-jauh ke negeri orang kok makannya ayam mekdi atau pondok pizza.

Kalau ke Malaysia atau Singapura sih gampang ya, tinggal cari kedai masakan india, arab, atau melayu. Kalau ngga ketemu, coba cari yang ada tulisannya “No pork, no lard.” Waktu ke Thailand, modal saya cuma satu kata, “Moo”, artinya pork/pig. Tiap liat jajanan pinggir jalan yang menarik, saya tinggal tunjuk sambil bilang, “Moo?” Kalau penjualnya geleng-geleng, boleh dilanjuuut. Urusan makanan beres.

No Pork, No Lard

No Pork, No Lard

Yang kadang terlewatkan ya urusan minum. Mungkin karena mikirnya gampang, tinggal cari sevel buat beli air mineral. Masalah terjadi waktu ke Sg terakhir, saya banyak jalan ke daerah permukiman dan jalur trekking yang (tentunya) ngga ada convenience store bertebaran. Kalau pas ketemu drinking station sih enak, tapi kalau sudah jalan jauh, napas senin-kamis, dan ngga ada drinking station, gimana? Di sinilah pertama kalinya saya minum air kran di Sg, hehehe. Lumayanlah, haus hilang plus hemat di kantong. Selama trip malah saya keterusan minum air kran, jadi budget beli air mineral dipakai buat pesan dessert atau minuman yg lucu-lucu.

Bird's Nest Drink

Es Sarang Burung

Flashback ke pertama kali saya ke Sg, lama-lama bosen juga minum air mineral melulu, apalagi saya yang sehari-hari lebih suka minum teh kalau lagi makan di luar. Pertama kali pesan teh di hawker center Sg, yang datang adalah… teh susu. Susah payah saya jelasin plain iced tea, tapi tetap kalau pesan “tea” ya keluarnya teh susu. Itu yang saya missed, harusnya belajar dulu istilah kosong, oh, peng, dsb. supaya bisa pesan teh oh kosong peng alias es teh tawar, kesukaan saya :D

Di Patong (Phuket) kejadian lagi, waktu saya blusukan ke Banzaan Market. Liat kios jualan kue aneka bentuk dan warna, tergoda dong saya untuk mampir dan icip-icip. Awalnya saya pesan minum dulu, “One tea, please.” Ibunya bengong. “Tea”, saya ulangi lagi. Masih bengong. “Water?”, sambil berharap semoga dia mengerti. Dan si ibu tetap bengong sambil geleng-geleng. Huaaa, saya bingung, mana di situ pada┬áminum kopi, jadi ngga bisa saya tunjuk-tunjuk kasih contoh. Akhirnya saya pilih bungkus aja kue-kuenya trus makan di tempat lain (mampir sevel dulu beli air mineral), daripada seret cyinnn.

Tahun berikutnya saya ke Bangkok dan udah agak pinteran. Masuk resto Thai, pesen ini-itu dengan cara tunjuk gambar di menu berhuruf cacing, lalu waktu memesan minum (ngga ada gambarnya), dengan mantap saya berucap, “Cha yen!”. Datanglah minuman sesuai pesanan saya: Thai iced tea *terharu* *bangga*

Cha Yen

Thai Iced Tea

Setelah dipikir-pikir, saya baru sadar bahwa mungkin kalau saya sebut “Iced Tea” pun pramusajinya mengerti apa yang saya maksud (atau setidaknya bisa tanya ke rekan kerjanya yang bisa bahasa Inggris) *ngakak*

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s